Arsip Blog - Membuka dengan Hati

Jumat, 2009 Maret 27

Anakku bernama RAIA


Telah lahir anakku yang kedua. Kamis, 12 Maret 2009, pukul 12.42 WIB. Rumah Bersalin Gladiool Magelang. Berat 4,5kg. Panjang 52 cm. Seorang anak lelaki yang kuberi nama : BHRE RASENDRIYA MENGGAPAI BINTANG. Panggil saja dia RAIA. Tak sulit kan? Artinya? coba kau buka saja kamus sansekerta. ada arti dari nama anakku. Aku akan membentuknya menjadi manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi seisi dunia. Manusia yang adil, jujur, dan bermartabat. Seperti namanya, RAIA (yang saya plesetkan dari RAYA, yang berarti besar), dia akan menjadi manusia yang besar jiwa dan teladannya. Semoga. 

SITUGINTUNG NASIBNYA MENGGANTUNG

Situgintung remuk redam. Saya hanya menyaksikannya dari TV. Tapi hati saya ikut hanyut bersama puluhan korban yang tak beruntung. Takdir tak dapat ditolak. Perlu tawakal yang sangat bagi yang mengalaminya. Saya berbela sungkawa. 

Tolong untuk para relawan yang kebetulan ada di sana, tanggalkan atribut kalian sebagai wakil dari sesuatu. Masih saja saya lihat atribut partai berebut simpati. Meski katanya bukan bermaksud kampanye, tapi maksud baik kalian insya Allah juga akan tak tercantum di buku besar sang Khaliq. Karena dibalik bantuan kalian jelas termaksud riba'. Kalian tetap berharap orang simpati atau berharap dianggap sebagai pahlawan. Saya tidak menilai demikian. Sebaliknya, saya kasihan kepada kalian juga kepada yang mengutus kalian. Kalian yang sebenarnya perlu ditolong. 

Rabu, 2009 Januari 07

TAHU DAN TAK TAHU

Ada yang tahu dirinya tahu

ada yang tahu dirinya tidak tahu

ada yang tidak tahu dirinya tahu

ada yang tidak tahu dirinya tidak tahu.

Yang paling berbahaya adalah yang terakhir. Sekarang berkacalah dirimu, kaukah itu? kalau begitu kau termasuk SOK TAHU. Simpan saja SOK TAHUmu, agar tak menjerumuskan orang yang tak tahu lainnya. 

KEBODOHAN MUSUH SEJATIKU

Kebodohan. Ternyata ini adalah kata, sebagai lingkup berpikir ataupun sikap, yang saat ini baru saya sadari merupakan momok menakutkan yang sangat saya benci. Pantas Rasulullah menghendaki kita memeranginya. Karena kebodohan selalu berkorelasi dengan kualitas berpikir, kualitas mengeluarkan pendapat, kualitas menentukan harkat hidup, kualitas dalam berhubungan dengan manusia lain, sehingga sejauh apa kita kedudukannya di mata orang lain. Kebodohan sangat bisa membahayakan citra diri, sehingga sebuah kearifan tak terjangkau dan terkubur begitu saja, kalah oleh keputusan-keputusan yang seringkali keliru. 
Jika Anda mencintai hidup, maka bencilah kebodohan ini. Karena hidup dalam kebodohan sama saja dengan tak hidup. Anda akan selalu berada di posisi tak setara dengan orang lain. Anda selalu berada terbawah dari rantai makanan kehidupan. Yang Anda dapat hanya sisa-sisa. Bahkan mungkin sudah basi dan tak layak. Bahwa Anda hanya akan mendapat pekerjaan kasar dan bergaji kecil. Karena mereka hanya bisa memanfaatkan tenaga Anda, bukan otak Anda. Karena Anda tak mampu tunjukkan kualitas kesempurnaan dalam mensikapi setiap kasus. Anda akan cenderung asal terjang, dan tak jauh berpikir. 
Jika Anda tak mau berubah, maka otomatis Anda tak mencintai hidup, maka Anda sudah jatuh cinta dengan kebodohan tanpa Anda sadari sesungguhnya. Dia akan menggerogoti masa depan Anda, sebuah masa depan yang seharusnya tak semata sesederhana bayangan Anda sebelumnya. Sebuah masa depan yang semestinya sangat cerah, minimal untuk anak cucu kita. 
Maka perangi kebodohan dengan merubah segala yang negatif dari dalam diri kita. Jangan membiasakan diri merasa nyaman dengan sesuatu yang telah Anda raih dan hadapi. Teruslah membaca buku, karena buku adalah cakrawala ilmu. Buku adalah pengantar untuk memahami pola pikir dan kedalaman hati orang lain. Buku mengenalkan kepada kita dunia yang tak terjangkau oleh kita sebelumnya. Buku adalah guru kearifan untuk tak berlaku sembrono. Bacalah sesegera mungkin, sahabat! Bergaullah dengan jiwa-jiwa yang putih, jiwa yang ingin maju. Jiwa yang selalu gelisah. Jiwa yang yakin setiap perubahan membawa dampak kebaikan. Jangan bergaul dengan mereka yang mudah menyerah, mereka yang kadung jatuh dalam lembah keputusasaan. Tuhan menciptakan ladang harapan, manusialah yang mewujudkan keputusasaan. Karena mereka adalah manusia-manusia pemuja kebodohan. Mereka bangga dengan kebodohan mereka, karena dengan begitu mereka pikir orang lain akan maklum dengan kerendahan derajat mereka. Mereka terbiasa dikasihani, mereka lebih senang tangannya dibawah untuk menerima dibanding memberi. Tapi mereka juga golongan yang mudah marah. Mereka anti kritik, sekaligus gampang menjatuhkan perasaan orang lain. Mereka miskin. Dan bangga jika miskin. Karena menurut mereka, miskin itu boleh bebas melakukan apa saja.
 Jadi, Anda memilih sebagai apa. Tentukan segera. Perubahan itu adalah sikap terbuka menerima yang beda. Siap menerima perkembangan zaman dan mengambil sikap atasnya. Berubah itu meliputi semangat dan konteks pengejawantahan. Berubah itu tak takut ketinggalan teknologi sekaligus tetap membumi. Letupkan ketetapan hati Anda, sahabat. Meski perubahan itu pasti tak gampang dan tidak enak di awal. Berubahlah secara esensi. Jangan mencari alasan diantara tantangan, sehingga Anda merasa bisa menghindarinya. Jangan lakukan itu, karena pasti anda akan menjadi orang kalah. Orang bodoh yang kalah. Orang miskin yang bodoh dan kalah. Dan jika masanya tiba, Anda saya jamin akan menyesal tapi tetap saja tak mampu berbuat apa-apa karena orang lain sudah berlari jauh di depan Anda. 
 Bodoh bagi saya adalah momok sekaligus musuh yang harus diberangus. Mimpi buruk yang harus saya hapus. 

Jumat, 2008 Desember 26

SANG PEMANAH BINTANG

Pagi belum juga perdengarkan adzan subuh. Kota masih lelap dalam mimpi dan buaian malam. Dewangga menemuiku dalam keadaan yang mengenaskan. Bajunya sudah tak berupa dengan balutan darah di mana-mana. Tapi tubuh itu tetap perkasa, meski tampak sekali keletihan merajai sekujur jiwa raganya. Kututup pintu dan kukunci kembali.
“Tolong aku, Danu. Tolong aku..”
“Apa yang terjadi padamu, saudaraku?”
Tak bisa kusembunyikan rasa piluku.
“Tuhan. Tuhan sedang mengejarku…Beri aku perlindungan. Tunjukkan tempat persembunyian yang aman.”
“ Tuhan mengejarmu? Kau lakukan kesalahan apa?”
Segelas air putih diteguknya tak bersisa. Sisa air dalam kendi diguyurkan ketubuh letih itu. Benakku tak berhenti menerka lakon apa yang sedang terjadi.
“Bukankah kau adalah sahabatNya? Itu diakuiNya dengan memberimu keleluasaan untuk memanah bintang? Logika dari mana kalian saling bermusuhan? Tak mungkin Dia murka jika kau tak berbuat apa-apa! Ayo, mengaku saja padaku, apa yang kau perbuat?”
Dia mengguncangkan tubuhku. “Sudahlah, tunjukkan dimana aku bisa bersembunyi dari malaikat itu. Aku sangat letih setelah berlarian sepanjang malam. Please, jangan tanya macam-macam.”
Dia lalu seperti kesetanan. Membuka pintu lemari. Menutupnya kembali. Berlarian tak terarah di ruang kecil ini. Menunduk di kolong tempat tidur. Berdiri. Menengadah. Lalu wajahnya pucat ketakutan seolah ada yang sedang membelalakkan mata padanya.
“Dia murka! Dia murka!”
“Wangga,” Kusentak tubuhnya,” Kau sangat tahu, tak ada yang bisa sembunyi dari mata-Nya. Bagaimana aku bisa membantumu?”
“Ah, aku kehabisan anak panah. Jibril tak mempan terkena panah emasku”.
“Wangga. Dewangga!”
Napasnya tersengal. Kulihat ada barutan penyesalan yang dalam dari wajah pucat itu. Dia berani memanah malaikat tentu ada sebabnya. Karena aku sangat percaya, dia lelaki terpilih. Dan sudah kukatakan padanya tadi, Tuhan memberkati dia untuk leluasa memanah bintang. Sementara orang lain harus susah payah meraih bintang dengan tangan kosong. Sebagian kecil berhasil, sebagian besar menyerah di tengah jalan.
Aku ingat sekali kala itu, saat Tuhan menyerahkan busur emas beserta anak panahnya kepada Dewangga. Dia janjikan anak panah itu takkan habis sama sekali hingga akhir zaman meski dia memanah bintang ribuan kali. Itu terjadi di lapangan bola pojok gang pada malam Lailatul Qodar. Dan janji itu, bagaimana Tuhan sekarang mengingkari janji-Nya?
“Danu….” Bibirnya berucap pelan.
“Ya.”
“Kau tahu selama ini aku sangat patuhi perintah-Nya. Ya, aku mulia. Kau lihat anak-anakku tumbuh sehat. Rezekiku bagai arus sungai yang deras. Istriku cantik dan setia. Kau tahu, tak sedetikpun aku berpaling dari-Nya. Tapi kali ini aku hanya ingin membantu. Hanya ingin membantu.”
Keningku bekernyit.
“Lihat manusia-manusia itu. Semakin banyak yang menantikan aku memanahi bintang. Mereka mengharapku untuk memanahi bintang, hingga bintang itu jatuh dan mereka punguti harapan yang terserak dari tubuh bintang itu. Mereka bahagia, bukan? Mereka bahagia karena selalu muncul bintang jatuh. Bukankah kau juga akan panjatkan harapan yang muluk saat melihat bintang jatuh? Kau tahu, siapa yang harus menyelesaikan urusan ini? Aku. Aku, Danu! Tuhan menunjukku untuk menjatuhkan bintang dengan panah ini. Tapi kali ini aku tiba-tiba ditegur-Nya! Aku ditegur-Nya terhadap sesuatu yang dikendaki-Nya.”
Rona matanya melebam. Suaranya terisak landai. Sang pemanah bintang itu menangis tak tertahankan lagi. Aku sontak mendekapnya. Trenyuh melebur masuk dalam dadaku saat tubuh kami bersatu. Bangga, karena akulah sahabat lelaki terpilih. Miris karena dia kini menjadi sangat histeris. Dan luka karena Tuhan melukai hatinya.
“Kau percaya padaku, Danu?”
“Bagaimana aku mengatakan tidak? Kau amanah.”
Dia masih menyisakan tangisnya,”Tapi aku tetap manusia…tempat salah dan dosa.”
“ya..ya..” Hanya itu? Ya ya? Aku memang tak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena aku pun kadang lupa bahwa sahabatku ini adalah manusia.
“Tapi mengapa Tuhan menegurmu?”
Dia beringsut melepaskan pelukannya,
“Kau ingat, Dia mengijinkanku memanahi bintang semauku? Nah, aku melakukannya demi melihat orang-orang tak berpengharapan terlalu lama. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh cita-cita. Aku hanya ingin memudahkan jalan mereka untuk merdeka. Tetapi ternyata Tuhan tak suka. Bukan karena bintang-Nya kupanah, tetapi alasanku itu yang membuat-Nya murka. Aku dianggap menjadikan diriku Tuhan. Oh, bagaimana mungkin? Aku sangat mencintai-Nya! Kau tahu itu. Kau sangat tahu. Aku berdebat sengit dengan-Nya tentang konsep keTuhanan ini. Tetapi sayang, Kami tak menemui titik temu. Tuhan kadung utus malaikat-Nya untuk memburuku. Mereka memburu sepanjang malam ini. 3 hutan telah kuterjang. 10 Sungai telah kusebrangi. Mereka tak berhenti. Aku kehabisan akal. Kuarahkan busurku ke dada mereka. Beberapa terkapar. Namun, jibril tak mempan oleh panah emasku. Dan sialnya, Tuhan bermain curang dengan menghabiskan sisa anak panahku. Dan aku tak tahu apa alasan-Nya mengkhianati janji-Nya.
“Aku bergelut sengit dengannya. Saat lengah dia kujerumuskan ke jurang. Tapi ternyata dia masih mengejarku meski terseok. Aku tak habis pikir, berapa nyawa yang dipunyainya. Saat itulah aku menemuimu, sobat. Aku butuh tempat berlindung. Butuh tempat mengadu.”
“Tapi aku lebih manusia ketimbang dirimu. Bagaimana aku melindungimu? Dari Tuhan? Dia tetap Tuhanku. Tuhan Kita.”
“Kau cukup cerdik memikirkannya. Think about some place!”
“Tidak. Maaf. Aku tak bisa. Kau mengajakku berkonspirasi di depan mata Tuhan? Bukankah ini sia-sia, Dewangga?”
“Kau sudah lupa betapa besar jasaku padamu selama ini?”
Aku menghimpun kekuatan untuk menolaknya lagi,”Ini tak menyelesaikan masalah. Bukannya tidak mau, bedakan, ini tidak bisa. Oh, Dewangga, aku menyayangimu. Sungguh. Maka temuilah Tuhan. Minta ampunlah dirimu.”
“Tidak! Sudah terlambat. Aku pun tersakiti dengan pengkhianatan-Nya.”
Tiba-tiba tanpa mengetuk pintu sang jibril menerobos saja ke ruang ini. Rupanya dia sudah mengintai di luar tadi. Meski Jibril sangat tampan, kentara sekali betapa Dewangga sangat pucat pasi,. Diraihnya leher Dewangga. Lalu diangkat sekian sentimeter, dan dilepaskannya perlahan. Tubuh Dewangga sempat mengejal. Tapi sedetik kemudian lantas lunglai berkalang tanah. Kulihat rangkuman partikel biru keluar dari tubuhnya dan dihirup hikmat oleh Jibril.
Saat hendak pergi, kerling matanya menatapku lekat. Aku menunduk semakin dalam oleh kilau auranya yang tiba-tiba menyilaukan. Lalu jibril lenyap. Kini tinggal aku dan seonggok tubuh lunglai sahabat yang tersisa. Lantas ruangan ini seolah sangat luas sekali. Aku tak sanggup mencapai jasad Dewangga. Padahal dia persis disampingku duduk. Lantai ini terasa dingin sekali. Seluruh tulangku serasa terlolosi. Aku menjatuhkan air mata. Menangisi kepergian sahabatku. Menangisi ketololan Dewangga yang tak bertobat. Menangis protes atas titah Tuhan pada Jibril.
Televisi masih menyala. Kerumunan semut hitam memenuhi layar putihnya.
Suara yang kukenal terdengar dari sana. Suara Tuhan.
“Hapuslah air matamu. Aku mengambil Dewangga bukan karena dendam. Dan jangan berpikir aku mengkhianati janji, karena janjiKu kekal. Hanya saja, sebuah kesalahan tetap memerlukan sebuah hukuman. Aku Maha mengetahui kelak yang terjadi, dan aku sangat paham sekali dampak atas tindakannya. Dia tidak berhak menentukan masa depan manusia dengan begitu saja. Dia sudah tidak selektif. Karena perbuatannya, umat manusia akan punah. Mereka akan melupakan proses, dan hanya mengharapkan mukjizat semata lewat bintang jatuh. Dan kau tahu, dia semakin jumawa. Dia tak mau bertobat! Jika manusia tak mau bertobat, artinya dia menyekutukan-Ku dan bibit untuk men-Tuhan-kan dirinya.”
Aku masih larut dalam duka.
“Nah, Danu. Inilah takdirmu. Raih busur itu. Jadilah sang pemanah bintang berikutnya. Ku harap kau bijak dan patuh.”
Aku terkesiap. Tawaran ini sangat menantang. Menikmati kemudahan hidup seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi, yang benar saja, dalam suasana seperti ini? Oh, lebih dari itu. Aku harus mengatakan sesuatu yang telah aku pikirkan sedari tadi.
“Tuhan. Maaf. Dengan ridho-Mu aku harus menolaknya. Aku mencintai perjuanganku dalam menggapai bintang selama ini. Kedua tanganku cukup kokoh untuk meraihnya. Mulai sekarang lebih baik jangan pernah ada lagi bintang jatuh. Sudah cukup banyak bintang jatuh. Sudah banyak orang keliru tak mau lagi berusaha. Aku hanya ingin mencapai bintang dan hidup sebagai dirinya. Aku akan hidup menjadi bintang yang terang di malam hari, sehingga mampu tunjukkan jalan bagi yang tersesat di belantara kehidupan. Aku hendak menjadi bintang. Dan aku tak mau jatuh.”
Tuhan terkekeh. Pasti dia juga manggut-manggut.
Memang sudah saatnya semua diubah. Cukup satu saja korban yang mati karena keinginan instan. Dewangga mati mengorbankan dirinya karena piciknya pikiran manusia. Mereka pikir bintang jatuh mampu mewujudkan semua cita-citanya. Mereka sudah lupa nikmatnya perjuangan yang berliku. Mereka sudah lupa bahwa hakekat hidup adalah perjuangan itu sendiri. Tanpa bintang jatuh berarti semua akan fair. Kehidupan manusia akan berkembang lagi, penuh warna.
Jadi, hey kau, apakah masih berharap bintang jatuh? Huh. Kau akan sia-sia.


Magelang, 23 Oktober 2008
23.51 WIB