<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209</id><updated>2011-08-02T09:50:55.068-07:00</updated><category term='hot news'/><category term='resensi buku'/><category term='renungan'/><category term='soulmate'/><category term='cerpen'/><category term='saksi hidup'/><title type='text'>DANU SANG BINTANG</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-4460107479521891759</id><published>2010-08-17T00:26:00.000-07:00</published><updated>2010-08-17T00:30:09.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>IBU</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tadi pagi ibu menelponku. Dia menangis tersedu. Suaranya mengandung pilu. Aku sangat tahu, dia berusaha penuh demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Pasti dia telah lakukan hal-hal ajaib dan hebat yang kita tak sanggup menghitungnya. Kita masih terlelap saat dia mengambil air wudhlu, membasuh jiwanya dan bersapa dengan Tuhan. saat itulah dia mendoakan kita semua agar hidup bahagia. Kita masih bersantai dengan mimpi kala dia menanak nasi dan menggoreng lauk yang sederhana. Bisa jadi itu adalah makanan terlezat sepanjang masa, tapi kita memilih untuk tak menyentuhnya karena alasan yang tak jelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ingatkah  kita, saat ibu mengajari kita untuk berbahasa krama dengan yang lebih  tua, hingga kini kita tak perlu bersusah payah untuk belajar sopan  dengan yang lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ingatkah, saat ibu membelai rambut kita dengan  mesra, dan bercerita tentang lima gunung yang melingkari kota, sungguh  tentram suaranya hingga kita terlelap penuh damai di sisinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ingatkah, saat ibu selalu meluluskan permintaan-permintaan sepele kita, meski dia perlu menjual emas permatanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ingatkah,  begitu tegar ia, saat kita, anak-anaknya mengatakan : "ah!" kepadanya.  hanya balasan doa dari mulut sucinya yang terucap, tentu untuk masa  depan gemilang kita, anak-anaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ingatkah, sampai ibu tak  sanggup membeli arloji baru, hingga arloji mati itu tetap dia kenakan.  Biar gaya katanya. Tapi sekarang baru aku tahu, ibu tak mampu membeli  yang baru, karena gaji bapak tak cukup untuk itu. Ibu cukup sahaja  melihat anak-anaknya ceria.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang kita ingat barangkali, saat ibu  murka melihat kita tak mengaji atau shalat. Kita lupa, justru inilah  prinsip kita hidup sebagai muslim. Sekarang aku, mungkin beberapa dari kita, kesulitan juga membaca al-Qur'an, apalagi mengejawantahkan artinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita  lupa, dia mengandung kita di rahimnya selama itu, tanpa merasakannya  sebagai beban, dan kita membalasnya dengan ucapan : "kulo mboten nyuwun  dilahirke, to?". Astaghfirullah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu adalah ratu adil. Tak ada  yang bisa berbuat seperti beliau: wanita sederhana dengan kualitas  pendidikan rendahan, tapi memiliki hati welas asih seluas samudra. Tapi ibu merasa kesepian. Kita terlalu banyak tuntutan. Kita terlalu sering malu dengan pemikirannya yang lugu. Kita  selalu menghitung pemberian kita padanya, kadang malah hanya baru  sampai pada niat dan tak terlaksana. Karena kita sibuk menghitung  pemberian kita. Kita cukup biadab rupanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tadi pagi ibu menangis. Untuk kesekian kalinya lewat telpon. Aku merasa menjadi anak yang sungguh tak tahu diri karena kita telah membuatnya sedih. Ibu  sudah sepuh. Jiwanya makin rapuh. Kita tak bisa memberikannya  kebahagiaan sejati. Sebagai anak kita telah gagal total mengantarkan dia  untuk naik haji, malah kita bergejolak memperebutkan harta. Kita  ternyata tak pernah naik kelas, kita tetap sebagai anak-anak kecil yang  takut hadapi kenyataan. Selama ini Kita merasa perlu memandang diri  sendiri: hanya kita yang serba kekurangan, padahal itu lebih sebagai  tantangan hidup, dan kita manja saja. Dan kita memilih untuk membebankan  semua masalah kita kepada ibu, ibu tercinta kita. Hingga ibu kita  tercinta berduka, harus terus berjuang untuk kita, mengorbankan kembali  keinginan-keinginannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu yang sudah tua ini adalah ibu tercinta kita, yang hidupnya kelak dibatasi usia. Aku takut tak mampu membahagiakannya hingga tutup usianya. Aku takut kehilangan dengan segudang perasaan menyesal. Tapi ibu menangis pagi ini, karena ulah kita, anak-anak tercintanya. Padahal jika kita gagal sebagai manusia, bukan karena dia gagal mengajari kita menjadi manusia sempurna. Hanya kebebalan kitalah yang membelenggu keberhasilan kita. Jangan salahkan dia, kumohon. Kegagalan hidup kita tak ada urusannya dengan dia. Kita telah memilih jalan hidup sendiri, konsekuenlah. Jadi, mohon hentikan tuntutan-tuntutan kalian. Berdirilah dengan gagah menghadapi hidup. "Allah takkan mengubah nasib kaumnya, jika kaum itu tak mengubahnya sendiri."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Segeralah telpon dia, datangi dia, sujudlah di kakinya. Mohon ampun bumi dan langit dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah, Tuhan membukakan pintu rizki-Nya untukmu. Insya Allah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-4460107479521891759?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/4460107479521891759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=4460107479521891759' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/4460107479521891759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/4460107479521891759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2010/08/ibu.html' title='IBU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-5825798496133351790</id><published>2010-08-11T18:25:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T18:28:32.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi hidup'/><title type='text'>PERKASA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/TGNOF1BDahI/AAAAAAAAALk/uLUpHHqG2sQ/s1600/07082010155.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/TGNOF1BDahI/AAAAAAAAALk/uLUpHHqG2sQ/s400/07082010155.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504329031614687762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PRIGI, 7 Agustus 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini adalah sebuah kesaksian, saat saya  hunting lokasi untuk syuting program TKLB di Pantai Prigi Trenggalek.  Saya menemui sebuah profesi, mungkin sudah purba, tapi adalah hal baru  atas kacamata saya pribadi. Ada belasan perempuan, bercaping, bercadar,  dengan peluh membasahi tubuhnya, menarik-narik seutas tambang di sisi  kanan dan kiri, di bibir pantai Prigi. Apa yang sedang mereka lakukan?  ternyata utas tambang tadi adalah ujung sebuah jala besar yang masih  perlu ditarik mereka dari tengah lautan agar mencapai daratan. Ratusan  meter panjangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Waktu saya tanyakan sudah berapa lama hari itu  mereka melakukannya, mereka katakan sudah sejak jam 11.30 siang. Padahal  waktu itu di telinga saya lamat-lamat terdengar adzan maghrib. 6 jam! 6  jam di bawah terik surya, dengan asa penuh mengharap panen ikan akan  berlimpah, mereka setia melakukan pekerjaan ini. Tak berhenti sama  sekali, karena mereka harus bergelut dengan waktu. Sementara di  sekelilingnya, pedagang-pedagang ikan juga menanti dengan penuh harap. 6  jam itupun belum juga pekerjaan selesai sepenuhnya. Saya taksir  pekerjaan itu baru akan selesai 1 jam setelahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya iseng  mencoba membantu menariknya. Ya Allah. Berat sekali. Tenaga lelaki saya  pun sempat tersengal. Belum lagi mesti menjaga keseimbangan dari benam  pasir pantai. Dan mereka katakan tahap ini sudah cukup ringan. Artinya,  jika jala tadi masih jauh di lautan sana, sungguh tak bisa saya  bayangkan betapa banyak tenaga yang mesti dikerahkan. Fyuh!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  tanya, berapa mereka dapatkan upah atas pekerjaan ini? Mereka  menjawabnya, jika ikan sepi mereka mendapatkan 20 ribu rupiah. Jika  ramai, bisa sekitar 40 ribuan. Itu jarang. Hanya. Ya, hanya, menimbang  jika saya refleksikan dengan gaji saya atau anda di luar sana. Padahal,  jika beberapa hari sepi, sang juragan akan menghentikan dahulu pekerjaan  ini. Artinya kemudian, mereka akan kehilangan pekerjaan untuk beberapa  hari ke depan. Jadi, bisakah kau bayangkan betapa beratnya hidup sebagai  mereka?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya jadi berpikir, merekalah yang semestinya mendapatkan  bintang jasa, karena mereka dengan segenap jiwa raga mendedikasikan  diri, mengejawantahkan kecintaan terhadap hidup itu sendiri. Merekalah  pejuang-pejuang kelangsungan hidup keluarga. Dari tangan mereka,  anak-anak bisa sekolah. Mereka hanya mengerti kerja adalah pengabdian  pada Tuhan, menjalankan titah tanpa sempat berpikir untuk menghancurkan  yang lain demi kejayaan diri atau keluarganya, seperti yang telah mahfum  terjadi di negeri ini: seperti yang dicontohkan pejabat dan para  pemimpin kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menjadi semakin heran, mengapa justru di kota  malah semakin menjadi hutan rimba. Semua bergelut sambil menyikut,  mengenakan topeng tanpa malu, tak konsisten atas ucapannya, entah karena  ewuh pakewuh, tapi sekaligus mendholimi kaum yang lebih lemah. Pemimpin  mudah menarik kata-katanya, dan berkelit dengan seribu alasan, mencari  cara agar kelakuannya bisa menjadi legal dan dibenarkan. Atau melarikan  diri dari masalah dengan diam, tapi diam-diam tetap menebalkan muka.  Banyak orang yang menganggap semua baik-baik saja. Mereka terlalu sering  bercermin sendirian, melihat diri sendiri aman-aman saja.Celakanya,  saluran komunikasi dibungkam pula. Banyak yang lupa, mereka lebih banyak  makan hak orang lain dibanding haknya. Hampir semua termanipulasi.  Panitia 17-an korup sisa kertas. Petugas tiket pantai memanipulasi  jumlah pengunjung. Petugas parkir menarik tarif lebih tinggi dari PERDA.  PNS tak mengembalikan uang penginapan hotel ke negara, meski tak  memanfaatkannya. Pengusaha kongkalikong dengan pejabat. Dan masih banyak  lagi, yang bermuara pada bahwa itu adalah hak. Perasaan mereka  demikian. Atas nama kebutuhan, padahal untuk mengasihani kemiskinan  jiwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi saya sadar, jika ada yang mencibir setelah membaca  tulisan ini. Jika ada yang mengatakan: makanya sekolah yang pinter!  Wajar dong orang goblok kerja kuli! Aku kan sudah S2, gaji besar adalah  imbalan sepadan! Dengan sesadar-sadarnya saya memakluminya. karena  orang-orang seperti itu tak perlu didengarkan. Diiyakan saja. Tentu  sambil kita doakan semoga mereka bisa setulus ibu-ibu di bibir pantai  Prigi itu, dan kembali ke jalan yang benar. Apalagi pas banget waktunya,  setiap doa kita di bulan Ramadan ini insya Allah akan di dengar-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapa yang mau berubah. Kau kah kawan? mari kita mulai dari sekarang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-5825798496133351790?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/5825798496133351790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=5825798496133351790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/5825798496133351790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/5825798496133351790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2010/08/perkasa.html' title='PERKASA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/TGNOF1BDahI/AAAAAAAAALk/uLUpHHqG2sQ/s72-c/07082010155.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-6959879713150049015</id><published>2009-03-27T08:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T08:39:47.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soulmate'/><title type='text'>Anakku bernama RAIA</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SczxkmlN6XI/AAAAAAAAALc/q3NshrhqzLw/s1600-h/raia+komplit.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 115px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SczxkmlN6XI/AAAAAAAAALc/q3NshrhqzLw/s320/raia+komplit.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317890871151946098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Telah lahir anakku yang kedua. Kamis, 12 Maret 2009, pukul 12.42 WIB. Rumah Bersalin Gladiool Magelang. Berat 4,5kg. Panjang 52 cm. Seorang anak lelaki yang kuberi nama : BHRE RASENDRIYA MENGGAPAI BINTANG. Panggil saja dia RAIA. Tak sulit kan? Artinya? coba kau buka saja kamus sansekerta. ada arti dari nama anakku. Aku akan membentuknya menjadi manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi seisi dunia. Manusia yang adil, jujur, dan bermartabat. Seperti namanya, RAIA (yang saya plesetkan dari RAYA, yang berarti besar), dia akan menjadi manusia yang besar jiwa dan teladannya. Semoga. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-6959879713150049015?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/6959879713150049015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=6959879713150049015' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6959879713150049015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6959879713150049015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2009/03/anakku-bernama-raia.html' title='Anakku bernama RAIA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SczxkmlN6XI/AAAAAAAAALc/q3NshrhqzLw/s72-c/raia+komplit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2125616570629011747</id><published>2009-03-27T07:56:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T08:09:36.582-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi hidup'/><title type='text'>SITUGINTUNG NASIBNYA MENGGANTUNG</title><content type='html'>&lt;p&gt;Situgintung remuk redam. Saya hanya menyaksikannya dari TV. Tapi hati saya ikut hanyut bersama puluhan korban yang tak beruntung. Takdir tak dapat ditolak. Perlu tawakal yang sangat bagi yang mengalaminya. Saya berbela sungkawa. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tolong untuk para relawan yang kebetulan ada di sana, tanggalkan atribut kalian sebagai wakil dari sesuatu. Masih saja saya lihat atribut partai berebut simpati. Meski katanya bukan bermaksud kampanye, tapi maksud baik kalian insya Allah juga akan tak tercantum di buku besar sang Khaliq. Karena dibalik bantuan kalian jelas termaksud riba'. Kalian tetap berharap orang simpati atau berharap dianggap sebagai pahlawan. Saya tidak menilai demikian. Sebaliknya, saya kasihan kepada kalian juga kepada yang mengutus kalian. Kalian yang sebenarnya perlu ditolong. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2125616570629011747?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2125616570629011747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2125616570629011747' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2125616570629011747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2125616570629011747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2009/03/situgintung-nasibnya-menggantung.html' title='SITUGINTUNG NASIBNYA MENGGANTUNG'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2304777785191162923</id><published>2009-01-07T00:18:00.001-08:00</published><updated>2009-01-07T00:25:44.297-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>TAHU DAN TAK TAHU</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ada yang tahu dirinya tahu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ada yang tahu dirinya tidak tahu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ada yang tidak tahu dirinya tahu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ada yang tidak tahu dirinya tidak tahu.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang paling berbahaya adalah yang terakhir. Sekarang berkacalah dirimu, kaukah itu? kalau begitu kau termasuk SOK TAHU. Simpan saja SOK TAHUmu, agar tak menjerumuskan orang yang tak tahu lainnya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2304777785191162923?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2304777785191162923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2304777785191162923' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2304777785191162923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2304777785191162923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2009/01/tahu-dan-tak-tahu.html' title='TAHU DAN TAK TAHU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2287577333983340762</id><published>2009-01-07T00:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T00:18:01.719-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>KEBODOHAN MUSUH SEJATIKU</title><content type='html'>Kebodohan. Ternyata ini adalah kata, sebagai lingkup berpikir ataupun sikap, yang saat ini baru saya sadari merupakan momok menakutkan yang sangat saya benci. Pantas Rasulullah menghendaki kita memeranginya. Karena kebodohan selalu berkorelasi dengan kualitas berpikir, kualitas mengeluarkan pendapat, kualitas menentukan harkat hidup, kualitas dalam berhubungan dengan manusia lain, sehingga sejauh apa kita kedudukannya di mata orang lain. Kebodohan sangat bisa membahayakan citra diri, sehingga sebuah kearifan tak terjangkau dan terkubur begitu saja, kalah oleh keputusan-keputusan yang seringkali keliru. &lt;br /&gt;Jika Anda mencintai hidup, maka bencilah kebodohan ini. Karena hidup dalam kebodohan sama saja dengan tak hidup. Anda akan selalu berada di posisi tak setara dengan orang lain. Anda selalu berada terbawah dari rantai makanan kehidupan. Yang Anda dapat hanya sisa-sisa. Bahkan mungkin sudah basi dan tak layak. Bahwa Anda hanya akan mendapat pekerjaan kasar dan bergaji kecil. Karena mereka hanya bisa memanfaatkan tenaga Anda, bukan otak Anda. Karena Anda tak mampu tunjukkan kualitas kesempurnaan dalam mensikapi setiap kasus. Anda akan cenderung asal terjang, dan tak jauh berpikir. &lt;br /&gt;Jika Anda tak mau berubah, maka otomatis Anda tak mencintai hidup, maka Anda sudah jatuh cinta dengan kebodohan tanpa Anda sadari sesungguhnya. Dia akan menggerogoti masa depan Anda, sebuah masa depan yang seharusnya tak semata sesederhana bayangan Anda sebelumnya. Sebuah masa depan yang semestinya sangat cerah, minimal untuk anak cucu kita. &lt;br /&gt;Maka perangi kebodohan dengan merubah segala yang negatif dari dalam diri kita. Jangan membiasakan diri merasa nyaman dengan sesuatu yang telah Anda raih dan hadapi. Teruslah membaca buku, karena buku adalah cakrawala ilmu. Buku adalah pengantar untuk memahami pola pikir dan kedalaman hati orang lain. Buku mengenalkan kepada kita dunia yang tak terjangkau oleh kita sebelumnya. Buku adalah guru kearifan untuk tak berlaku sembrono. Bacalah sesegera mungkin, sahabat! Bergaullah dengan jiwa-jiwa yang putih, jiwa yang ingin maju. Jiwa yang selalu gelisah. Jiwa yang yakin setiap perubahan membawa dampak kebaikan. Jangan bergaul dengan mereka yang mudah menyerah, mereka yang kadung jatuh dalam lembah keputusasaan. Tuhan menciptakan ladang harapan, manusialah yang mewujudkan keputusasaan. Karena mereka adalah manusia-manusia pemuja kebodohan. Mereka bangga dengan kebodohan mereka, karena dengan begitu mereka pikir orang lain akan maklum dengan kerendahan derajat mereka. Mereka terbiasa dikasihani, mereka lebih senang tangannya dibawah untuk menerima dibanding memberi. Tapi mereka juga golongan yang mudah marah. Mereka anti kritik, sekaligus gampang menjatuhkan perasaan orang lain. Mereka miskin. Dan bangga jika miskin. Karena menurut mereka, miskin itu boleh bebas melakukan apa saja.&lt;br /&gt; Jadi, Anda memilih sebagai apa. Tentukan segera. Perubahan itu adalah sikap terbuka menerima yang beda. Siap menerima perkembangan zaman dan mengambil sikap atasnya. Berubah itu meliputi semangat dan konteks pengejawantahan. Berubah itu tak takut ketinggalan teknologi sekaligus tetap membumi. Letupkan ketetapan hati Anda, sahabat. Meski perubahan itu pasti tak gampang dan tidak enak di awal. Berubahlah secara esensi. Jangan mencari alasan diantara tantangan, sehingga Anda merasa bisa menghindarinya. Jangan lakukan itu, karena pasti anda akan menjadi orang kalah. Orang bodoh yang kalah. Orang miskin yang bodoh dan kalah. Dan jika masanya tiba, Anda saya jamin akan menyesal tapi tetap saja tak mampu berbuat apa-apa karena orang lain sudah berlari jauh di depan Anda. &lt;br /&gt; Bodoh bagi saya adalah momok sekaligus musuh yang harus diberangus. Mimpi buruk yang harus saya hapus. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2287577333983340762?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2287577333983340762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2287577333983340762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2287577333983340762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2287577333983340762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2009/01/kebodohan-musuh-sejatiku.html' title='KEBODOHAN MUSUH SEJATIKU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-3341644503890231942</id><published>2008-12-26T02:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T02:13:35.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>SANG PEMANAH BINTANG</title><content type='html'>Pagi belum juga perdengarkan adzan subuh. Kota masih lelap dalam mimpi dan buaian malam. Dewangga menemuiku dalam keadaan yang mengenaskan. Bajunya sudah tak berupa dengan balutan darah di mana-mana. Tapi tubuh itu tetap perkasa, meski tampak sekali keletihan merajai sekujur jiwa raganya. Kututup pintu dan kukunci kembali. &lt;br /&gt; “Tolong aku, Danu. Tolong aku..”&lt;br /&gt;        “Apa yang terjadi padamu, saudaraku?”&lt;br /&gt; Tak bisa kusembunyikan rasa piluku.&lt;br /&gt; “Tuhan. Tuhan sedang mengejarku…Beri aku perlindungan. Tunjukkan tempat persembunyian yang aman.”&lt;br /&gt; “ Tuhan mengejarmu? Kau lakukan kesalahan apa?”&lt;br /&gt; Segelas air putih diteguknya tak bersisa. Sisa air dalam kendi diguyurkan ketubuh letih itu. Benakku tak berhenti menerka lakon apa yang sedang terjadi. &lt;br /&gt; “Bukankah kau adalah sahabatNya? Itu diakuiNya dengan memberimu keleluasaan untuk memanah bintang? Logika dari mana kalian saling bermusuhan? Tak mungkin Dia murka jika kau tak berbuat apa-apa! Ayo, mengaku saja padaku, apa yang kau perbuat?” &lt;br /&gt; Dia mengguncangkan tubuhku. “Sudahlah, tunjukkan dimana aku bisa bersembunyi dari malaikat itu. Aku sangat letih setelah berlarian sepanjang malam. Please, jangan tanya macam-macam.”&lt;br /&gt; Dia lalu seperti kesetanan. Membuka pintu lemari. Menutupnya kembali. Berlarian tak terarah di ruang kecil ini. Menunduk di kolong tempat tidur. Berdiri. Menengadah. Lalu wajahnya pucat ketakutan seolah ada yang sedang membelalakkan mata padanya. &lt;br /&gt; “Dia murka! Dia murka!”&lt;br /&gt; “Wangga,” Kusentak tubuhnya,” Kau sangat tahu, tak ada yang bisa sembunyi dari mata-Nya. Bagaimana aku bisa membantumu?”&lt;br /&gt; “Ah, aku kehabisan anak panah. Jibril tak mempan terkena panah emasku”.&lt;br /&gt; “Wangga. Dewangga!”&lt;br /&gt; Napasnya tersengal. Kulihat ada barutan penyesalan yang dalam dari wajah pucat itu. Dia berani memanah malaikat tentu ada sebabnya. Karena aku sangat percaya, dia lelaki terpilih. Dan sudah kukatakan padanya tadi, Tuhan memberkati dia untuk leluasa memanah bintang. Sementara orang lain harus susah payah meraih bintang dengan tangan kosong. Sebagian kecil berhasil, sebagian besar menyerah di tengah jalan. &lt;br /&gt; Aku ingat sekali kala itu, saat Tuhan menyerahkan busur emas beserta anak panahnya kepada Dewangga. Dia janjikan anak panah itu takkan habis sama sekali hingga akhir zaman meski dia memanah bintang ribuan kali. Itu terjadi di lapangan bola pojok gang pada malam Lailatul Qodar. Dan janji itu, bagaimana Tuhan sekarang mengingkari janji-Nya?&lt;br /&gt; “Danu….” Bibirnya berucap pelan. &lt;br /&gt; “Ya.” &lt;br /&gt; “Kau tahu selama ini aku sangat patuhi perintah-Nya. Ya, aku mulia. Kau lihat anak-anakku tumbuh sehat. Rezekiku bagai arus sungai yang deras. Istriku cantik dan setia. Kau tahu, tak sedetikpun aku berpaling dari-Nya. Tapi kali ini aku hanya ingin membantu. Hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt; Keningku bekernyit. &lt;br /&gt; “Lihat manusia-manusia itu. Semakin banyak yang menantikan aku memanahi bintang. Mereka mengharapku untuk memanahi bintang, hingga bintang itu jatuh dan mereka punguti harapan yang terserak dari tubuh bintang itu. Mereka bahagia, bukan? Mereka bahagia karena selalu muncul bintang jatuh. Bukankah kau juga akan panjatkan harapan yang muluk saat melihat bintang jatuh? Kau tahu, siapa yang harus menyelesaikan urusan ini? Aku. Aku, Danu! Tuhan menunjukku untuk menjatuhkan bintang dengan panah ini. Tapi kali ini aku tiba-tiba ditegur-Nya! Aku ditegur-Nya terhadap sesuatu yang dikendaki-Nya.”&lt;br /&gt; Rona matanya melebam. Suaranya terisak landai. Sang pemanah bintang itu menangis tak tertahankan lagi. Aku sontak mendekapnya. Trenyuh melebur masuk dalam dadaku saat tubuh kami bersatu. Bangga, karena akulah sahabat lelaki terpilih. Miris karena dia kini menjadi sangat histeris. Dan luka karena Tuhan melukai hatinya. &lt;br /&gt; “Kau percaya padaku, Danu?”&lt;br /&gt; “Bagaimana aku mengatakan tidak? Kau amanah.”&lt;br /&gt; Dia masih menyisakan tangisnya,”Tapi aku tetap manusia…tempat salah dan dosa.”&lt;br /&gt; “ya..ya..” Hanya itu? Ya ya? Aku memang tak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena aku pun kadang lupa bahwa sahabatku ini adalah manusia. &lt;br /&gt; “Tapi mengapa Tuhan menegurmu?”&lt;br /&gt; Dia beringsut melepaskan pelukannya,&lt;br /&gt;“Kau ingat, Dia mengijinkanku memanahi bintang semauku? Nah, aku melakukannya demi melihat orang-orang tak berpengharapan terlalu lama. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh cita-cita. Aku hanya ingin memudahkan jalan mereka untuk merdeka. Tetapi ternyata Tuhan tak suka. Bukan karena bintang-Nya kupanah, tetapi alasanku itu yang membuat-Nya murka. Aku dianggap menjadikan diriku Tuhan. Oh, bagaimana mungkin? Aku sangat mencintai-Nya! Kau tahu itu. Kau sangat tahu. Aku berdebat sengit dengan-Nya tentang konsep keTuhanan ini. Tetapi sayang, Kami tak menemui titik temu. Tuhan kadung utus malaikat-Nya untuk memburuku. Mereka memburu sepanjang malam ini. 3 hutan telah kuterjang. 10 Sungai telah kusebrangi. Mereka tak berhenti. Aku kehabisan akal. Kuarahkan busurku ke dada mereka. Beberapa terkapar. Namun, jibril tak mempan oleh panah emasku. Dan sialnya, Tuhan bermain curang dengan menghabiskan sisa anak panahku. Dan aku tak tahu apa alasan-Nya mengkhianati janji-Nya. &lt;br /&gt; “Aku bergelut sengit dengannya. Saat lengah dia kujerumuskan ke jurang. Tapi ternyata dia masih mengejarku meski terseok. Aku tak habis pikir, berapa nyawa yang dipunyainya. Saat itulah aku menemuimu, sobat. Aku butuh tempat berlindung. Butuh tempat mengadu.”&lt;br /&gt; “Tapi aku lebih manusia ketimbang dirimu. Bagaimana aku melindungimu? Dari Tuhan? Dia tetap Tuhanku. Tuhan Kita.”&lt;br /&gt; “Kau cukup cerdik memikirkannya. Think about some place!”&lt;br /&gt; “Tidak. Maaf. Aku tak bisa. Kau mengajakku berkonspirasi di depan mata Tuhan? Bukankah ini sia-sia, Dewangga?”&lt;br /&gt; “Kau sudah lupa betapa besar jasaku padamu selama ini?”&lt;br /&gt; Aku menghimpun kekuatan untuk menolaknya lagi,”Ini tak menyelesaikan masalah. Bukannya tidak mau, bedakan, ini tidak bisa. Oh, Dewangga, aku menyayangimu. Sungguh. Maka temuilah Tuhan. Minta ampunlah dirimu.”&lt;br /&gt; “Tidak! Sudah terlambat. Aku pun tersakiti dengan pengkhianatan-Nya.”&lt;br /&gt; Tiba-tiba tanpa mengetuk pintu sang jibril menerobos saja ke ruang ini. Rupanya dia sudah mengintai di luar tadi. Meski Jibril sangat tampan, kentara sekali betapa Dewangga sangat pucat pasi,. Diraihnya leher Dewangga. Lalu diangkat sekian sentimeter, dan dilepaskannya perlahan. Tubuh Dewangga sempat mengejal. Tapi sedetik kemudian lantas lunglai berkalang tanah. Kulihat rangkuman partikel biru keluar dari tubuhnya dan dihirup hikmat oleh Jibril. &lt;br /&gt;  Saat hendak pergi, kerling matanya menatapku lekat. Aku menunduk semakin dalam oleh kilau auranya yang tiba-tiba menyilaukan. Lalu jibril lenyap. Kini tinggal aku dan seonggok tubuh lunglai sahabat yang tersisa. Lantas ruangan ini seolah sangat luas sekali. Aku tak sanggup mencapai jasad Dewangga. Padahal dia persis disampingku duduk. Lantai ini terasa dingin sekali. Seluruh tulangku serasa terlolosi. Aku menjatuhkan air mata. Menangisi kepergian sahabatku. Menangisi ketololan Dewangga yang tak bertobat. Menangis protes atas titah Tuhan pada Jibril. &lt;br /&gt; Televisi masih menyala. Kerumunan semut hitam memenuhi layar putihnya. &lt;br /&gt; Suara yang kukenal terdengar dari sana. Suara Tuhan. &lt;br /&gt; “Hapuslah air matamu. Aku mengambil Dewangga bukan karena dendam. Dan jangan berpikir aku mengkhianati janji, karena janjiKu kekal. Hanya saja, sebuah kesalahan tetap memerlukan sebuah hukuman. Aku Maha mengetahui kelak yang terjadi, dan aku sangat paham sekali dampak atas tindakannya. Dia tidak berhak menentukan masa depan manusia dengan begitu saja. Dia sudah tidak selektif. Karena perbuatannya, umat manusia akan punah. Mereka akan melupakan proses, dan hanya mengharapkan mukjizat semata lewat bintang jatuh. Dan kau tahu, dia semakin jumawa. Dia tak mau bertobat! Jika manusia tak mau bertobat, artinya dia menyekutukan-Ku dan bibit untuk men-Tuhan-kan dirinya.”&lt;br /&gt; Aku masih larut dalam duka. &lt;br /&gt; “Nah, Danu. Inilah takdirmu. Raih busur itu. Jadilah sang pemanah bintang berikutnya. Ku harap kau bijak dan patuh.”&lt;br /&gt; Aku terkesiap. Tawaran ini sangat menantang. Menikmati kemudahan hidup seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi, yang benar saja, dalam suasana seperti ini? Oh, lebih dari itu. Aku harus mengatakan sesuatu yang telah aku pikirkan sedari tadi. &lt;br /&gt; “Tuhan. Maaf. Dengan ridho-Mu aku harus menolaknya. Aku mencintai perjuanganku dalam menggapai bintang selama ini. Kedua tanganku cukup kokoh untuk meraihnya. Mulai sekarang lebih baik jangan pernah ada lagi bintang jatuh. Sudah cukup banyak bintang jatuh. Sudah banyak orang keliru tak mau lagi berusaha. Aku hanya ingin mencapai bintang dan hidup sebagai dirinya. Aku akan hidup menjadi bintang yang terang di malam hari, sehingga mampu tunjukkan jalan bagi yang tersesat di belantara kehidupan. Aku hendak menjadi bintang. Dan aku tak mau  jatuh.”&lt;br /&gt; Tuhan terkekeh. Pasti dia juga manggut-manggut. &lt;br /&gt; Memang sudah saatnya semua diubah. Cukup satu saja korban yang mati karena keinginan instan. Dewangga mati mengorbankan dirinya karena piciknya pikiran manusia. Mereka pikir bintang jatuh mampu mewujudkan semua cita-citanya. Mereka sudah lupa nikmatnya perjuangan yang berliku. Mereka sudah lupa bahwa hakekat hidup adalah perjuangan itu sendiri. Tanpa bintang jatuh berarti semua akan fair. Kehidupan manusia akan berkembang lagi, penuh warna. &lt;br /&gt; Jadi, hey kau, apakah masih berharap bintang jatuh? Huh. Kau akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magelang, 23 Oktober 2008&lt;br /&gt;23.51 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-3341644503890231942?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/3341644503890231942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=3341644503890231942' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3341644503890231942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3341644503890231942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/12/sang-pemanah-bintang.html' title='SANG PEMANAH BINTANG'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2553355612956080924</id><published>2008-11-05T18:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-05T19:17:21.593-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>TERLALU BANYAK HAKIM DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;p&gt;Kasus Syekh Puji yang nekad menikahi Ulfa yang masih 12 tahun ternyata menyedot perhatian kita. Sebentar, saya mau tanya reaksi Anda apa? boleh saya tebak, menghujat, mencela, atau bahkan mendoakan biar masuk neraka? Sebentar, saya tanya lagi : kenapa kita harus ikut-ikutan berkomentar yang nggak perlu? Saya tanya lagi, Anda saudaranya Ulfa, tetangga, atau teman, atau kerabat jauh, atau orang yang berlalu lalang di jalan yang sekadar mengemukakan pendapat tapi lalu pergi begitu saja dengan tidak bertanggung jawab? Kalau termasuk kategori yang terakhir, ini sangat bahaya. Anda berpotensi memperkeruh suasana. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan membela, tetapi Saya pikir Syekh Puji mempunyai alasan sendiri dalam menentukan pilihannya. Dan sepengetahuan saya, orang tua Ulfa, bahkan Ulfa-nya sendiri tidak merasa terpaksa atau menjadi korban pelecehan. Lalu kenapa kita yang kebakaran jenggot? Mengapa kita tidak mulai belajar menghormati pilihan atau keputusan orang yang sebenarnya tidak sama sekali mempengaruhi terhadap hidup kita? Mungkin tergolong nekad tindakan syekh Puji ini. Tapi kalau dikatakan keliru, coba tunjukkan dimana kekeliruannya? Dalam hukum Islam, selama pernikahan itu ada wali, ada mempelai, ada saksi, dan akad dibawah al-Quran, artinya sah. Jadi mana yang keliru? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau menimbulkan masalah sosial, misal memberikan contoh buruk bagi orang lain, sehingga berpotensi membuat yang lain ingin mencontohnya, kira-kira yang bodoh siapa? Tentu orang lain itu. Karena bisanya cuma mbebek. Bisanya cuma latah tapi tak mengerti sama sekali esensinya. Ya, kita sering terbiasa menjadi pribadi yang tak berkepribadian. Kita biasa bermuka dua. Biasa melihat orang lain salah, sementara kita tak sadar bahwa mungkin saja kesalah kita buat sepanjang hari sepanjang hidup.  Atau memandang sebuah kejadian yang dialami orang lain sebagai komoditi yang bisa kita jual demi rating misalnya. Maka kita seolah-olah berhak menjustifikasi perbuatan orang lain semau kita tanpa mempertimbangkan hati nurani dan perasaan orang lain. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan jika Anda salah satu yang menyarankan mereka bercerai, apa pernah terbersit yang memikirkan nasib Ulfa selanjutnya? Status janda di masyarakat kita jelas negatif. Jika dia mau meneruskan sekolah, apa tidak kita bayangkan hal-hal yang bakal terjadi. Misal teman-temannya menjauhinya, meledeknya dan sebagainya. Pertanyaan penting, Anda mau bertanggung jawab? Pasti Anda memilih lari dan mengatakan "aku nggak ikut-ikut..." Huh! Pengecut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya rasa, Ulfa pun kini punya prioritas dan pandangan sendiri mengenai istilah masa depan. Karena tiap orang pun memandang hidup juga dari sisi yange berbeda-beda. Mungkin dia cukup sederhana saja, masa depan adalah hidup tenang dan neyenangkan orang tua dengan balasan ganjaran janji Allah yaitu surga. Maka kita tak berhak mengarahkan masa depan melulu materi kepadanya. jangan-jangan justru kita yang pendek berpikirnya? Mungkin sekali. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, kalau mau jadi hakim dan menghakimi seseorang, sekolah dululah di sekolah yang resmi. fakultas Hukum misalnya. Tapi setelahnya jadilah hakim yang baik dan mengacu pada nurani. Jangan nggak sekolah di fakultas Hukum sedetik pun, masih saja jadi hakim nasib orang lain. Kelihatan bodoh dan pongah sekali....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2553355612956080924?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2553355612956080924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2553355612956080924' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2553355612956080924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2553355612956080924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/11/terlalu-banyak-hakim-di-indonesia.html' title='TERLALU BANYAK HAKIM DI INDONESIA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-3145150837018573186</id><published>2008-09-02T23:17:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T23:26:03.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>MARHABAN YA RAMADHAN</title><content type='html'>Ramadhan ini sudah menyentuh kita. Buat yang menjalankan selamat saja. Semoga kemenangan ada di pihak kita. Semoga dengan ramadhan ini kemudian ada rasa yang tertinggal untuk kita tuntaskan di kehidupan sosial selanjutnya.&lt;br /&gt;bahwa semoga kita jadi ingat, sudah lama kita tak berbagi.&lt;br /&gt;bahwa kita jadi sadar, kita sangat beruntung selama ini.&lt;br /&gt;bahwa ternyata rasa lapar dan dahaga itu tidak enak, dan tidak enak itu dirasakan sepanjang hari oleh mereka yang ada di sebelah kita.&lt;br /&gt;bahwa ternyata berpikir positif terhadap apapun itu lebih sejuk di hati.&lt;br /&gt;bahwa gosip dan wasangka adalah perbuatan keji.&lt;br /&gt;bahwa air wudhu melebihi obat segala sakit.&lt;br /&gt;bahwa sabar adalah terang matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya Ramadhan. Semoga tahun depan kita menjumpainya lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-3145150837018573186?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/3145150837018573186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=3145150837018573186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3145150837018573186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3145150837018573186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/09/marhaban-ya-ramadhan.html' title='MARHABAN YA RAMADHAN'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-6046763418314885391</id><published>2008-08-26T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T01:42:30.731-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>APAKAH LEGISLATIF ITU SEBUAH LOWONGAN PEKERJAAN?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sadar tidak, kalau lowongan kerja yang dicari-cari orang saat ini adalah sebagai calon legislatif? Bahkan untuk menduduki posisi itu, segala cara dilakukan. Urat malu dibenam rapat-rapat. Begitu transparan di berita-berita media, mereka saling mengklaim diri yang sah dan yang hak. Mereka saling mangadukan lawannya ke mahkamah hijau. Mereka memprotes dengan mengajak konstituennya untuk ngluruk kantor partainya, meninggikan harkat yang kadung terserak selama ini. Ada yang tenang-tenang saja, tiba-tiba namanya tercantum dalam daftar urut. Ada ratusan artis yang tiba-tiba tampak peduli berpartai. Oh, betapa nikmat godaan mimpi menjadi pejabat. Betapa menggugurkan dahaga rasanya jadi pejabat. Betapa kita akan seolah multiple orgasm jika punya kuasa menyuruh-nyuruh orang lain.  Tapi apa itu hakekatnya? hanya serendah itukah? Saya curiga jangan-jangan mereka hanya pengangguran terselubung di negara kita yang mencari hidup menjadi legislatif? betapa naifnya jika kita tak bisa berpikir lagi bahwa di luar sana masih banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan. Jadi saja pedagang. Atau makelar. Atau penulis buku. Atau tukang becak, pegawai bank. Banyak! Banyak pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingan atas nama rakyat. Apa kemudian 'rasa' prestise itu hanya didapat jika menjadi legislatif? Atau karena orientasi gaji bejibun? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya ngeri membayangkan akan jadi apa negeri ini kelak. Jangan-jangan sudah banyak diantara kita yang lupa bahwa pengelola negara itu justru abdi masyarakat. Babu. Bukan kebalikannya, rakyat disuruh mundhuk-mundhuk, memberikan jalan mereka karena mendengar sirine foriders, atau disuruh pindah tempat duduk karena mau dipakai pak DPR. Saya ngeri jika dalam hati kebanyakan kita tak bertujuan mengabdi. Jika rapat seolah membela kepentingan rakyat tapi minta insentif diluar gaji. Outcome-nya tidak jelas, tapi income pribadinya "mak bluk". &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya saya ngeri sekali ketika menyebutkan bahwa jabatan legislatif adalah "lowongan pekerjaan" sejak awal tadi.  Karena bagi saya itu adalah amanat. Sebuah posisi yang menuntut tanggung jawab moral yang harus dipertanggung jawabkan kepada rakyat dan Tuhan. Sebuah jabatan yang penuh kegelisahan. Gelisah jika rakyat tak bisa makan. Gelisah jika orang lain tak berdaya beli secara memadai. Gelisah jika kita memakan gaji dari uang pajak rakyat, sementara kita tak berkontribusi optimal buat mereka. Gelisah jika terus-terusan menuntut fasilitas pribadi dari anggaran negara. Gelisah jika korup. Menangis bertahun karena tak memperjuangkan nasib rakyat. Berduka mendalam saat kehilangan akhlak. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAAFKAN SAYA ATAS KENGERIAN SAYA. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-6046763418314885391?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/6046763418314885391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=6046763418314885391' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6046763418314885391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6046763418314885391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/apakah-legislatif-itu-sebuah-lowongan.html' title='APAKAH LEGISLATIF ITU SEBUAH LOWONGAN PEKERJAAN?'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-5579794727089049233</id><published>2008-08-19T23:22:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T23:54:40.273-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>HARI MERDEKA, untuk siapa?</title><content type='html'>Tujuh belas agustus tahun empat lima...&lt;br /&gt;Itulah hari kemerdekaan kita...&lt;br /&gt;Hari Merdeka nusa dan bangsa...&lt;br /&gt;hari lahirnya bangsa Indonesia..Merdeka!&lt;br /&gt;Skali merdeka tetap merdeka..&lt;br /&gt;selama hayat masih di kandung badan...&lt;br /&gt;Kita tetap sedia tetap setia mempertahankan Indonesia...&lt;br /&gt;Kita tetap sedia tetap setia membela negara kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63 tahun Indonesia merdeka. Bertahun-tahun selama hidup saya, saya selalu dengan gagah berani dan lantang tak kepayang menyanyikan lagu itu. Betapa kemudian rasa di hati membuncah untuk berbuat terbaik bagi negeri. Tapi tidak tahun ini. Tidak untuk dua tahun ini mungkin. Mengingat lagi lirik H. Muntahar tadi, saya sekarang bertanya pada diri sendiri : Ndak Iyo? (Apa iya?)&lt;br /&gt;Apa betul Indonesia sudah merdeka? Apa sampeyan-sampeyan di sana sudah merdeka, sedulur? Jangan-jangan kita malah ndak tahu arti merdeka itu sendiri. Ya, mungkin saya yang terlalu keras pada diri sendiri untuk memberikan makna dan arti sebuah kata merdeka. Merdeka bagi saya adalah hidup layak.&lt;br /&gt;Merdeka bagi saya adalah tidak merasa terpaksa berbuat sesuatu pun karena orang lain, diluar kesadaran demi kepentingan orang banyak dengan tidak meninggalkan penghargaan atas hak-hak seseorang.&lt;br /&gt;Merdeka bagi saya adalah hidup tenang tanpa campur tangan orang lain.&lt;br /&gt;Merdeka bagi saya adalah fairplay.&lt;br /&gt;Merdeka bagi saya adalah semuanya baik dan baik bagi semua.&lt;br /&gt;Apa sampeyan sudah merdeka? Saya khawatir jangan-jangan sampeyan sudah memenuhi kualifikasi merdeka saya, tetapi dibalik itu sekaligus mengekang kemerdekaan orang lain? Who knows? siapa tahu? Karena kadang kita berbuat sesuatu demi kepentingan kita sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain, meski tak jarang mengatasnamakan orang banyak.&lt;br /&gt;Lebih banyak apa, kita mengeluh tentang kondisi negara atau membanggakan negara?&lt;br /&gt;Lebih banyak mana, kita berkomentar atau berbuat sesuatu?&lt;br /&gt;Lebih memilih mana, menghukum orang yang tidak upacara bendera dengan memberikan cap tak nasionalis dibanding tingkah laku kita yang korup?&lt;br /&gt;Kita memang gampang mengaku sudah merdeka. Apalagi sekadar manis di bibir. Tetapi coba lihat di bawahmu, masihkah kaki-kaki kita menginjak saudara yang lain? Masihkah kita tega makan enak sementara di sisi kita banyak yang tidak bisa makan?&lt;br /&gt;Lihat perayaan kita kali ini. Lihat di malam 17 agustus kemarin. Betapa semarak perayaan tasyakuran itu. Ada dangdhut. ada doorprize. Ada riang gembira disana. kasat mata memang guyub. Tapi coba lihat. Setiap komunitas berlomba yang termewah, terbesar, ter-wah dibanding lain. Bahkan ada, di satu jalan kampung, tampak 3 kegiatan tasyakuran yang berbeda. Masing-masing berlomba dengan kekuatan sound system yang bersaing. Begitu gaduh. Begitu tidak nyaman didengar. Tapi tetap saja dilakukan setiap tahunnya. Sampai larut malam lagi. Saat dimana orang lain harus istirahat. Saat dimana yang dapat jatah lembur dikantor mesti pulang telat karena jalan diblokir sana-sini. Sampeyan merdeka, cak. Lha mereka tersiksa. Doremah?&lt;br /&gt;apa tak lebih baik jika dikomunikasikan untuk merayakan bersama saja. kan lebih hemat. Kan lebih semarak. Kan lebih nyedulur?&lt;br /&gt;Meski, itupun saya pikir juga sebuah pemborosan. Saya tak yakin kegiatan itu ada dampak positipnya ke depan, ya selain 'keliatan' guyub itu tadi. Saya tak yakin anak-anak muda akan kemudian serta merta muncul jiwa nasionalisnya, sehingga akan memperbaiki kisi-kisi infrasturktur negara, atau sekadar meninggalkan narkoba. Saya tak yakin sepulang kegiatan itu, pagi harinya ibu-ibu berhenti bergosip tentang tetangga yang tidak mereka sukai karena alasan yang tidak masuk akal.&lt;br /&gt;Jadi, sebelum kita teriak-teriak hari merdeka, renungkan dulu saja apa kita sudah merdeka dan apa kita sudah memerdekakan orang lain?&lt;br /&gt;Dirgahayu Indonesia. Right or wrong is my country. Tapi kalo wrong terus...awas ya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-5579794727089049233?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/5579794727089049233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=5579794727089049233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/5579794727089049233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/5579794727089049233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/hari-merdeka-untuk-siapa.html' title='HARI MERDEKA, untuk siapa?'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-6577284808985985105</id><published>2008-08-07T02:34:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T02:40:28.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soulmate'/><title type='text'>SATU KAYUH BERDUA</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJrC6S66PpI/AAAAAAAAAFI/sEFctwXshgU/s1600-h/foto+di+gethek.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJrC6S66PpI/AAAAAAAAAFI/sEFctwXshgU/s320/foto+di+gethek.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231708223911378578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu kayuh berdua....sepenggal lirik KLa Project itu teringat kala aku berada berdua di hamparan air di atas sebuah "gethek" di resto wisata Boyong Kalegan Jogja bersama permata hatiku, Jingga. Dia tampak begitu menikmati kebersamaan ini. Apalagi yang diharapkan seorang anak selain kasih sayang orang tuanya? Saya jadi teringat beberapa kejadian, seseorang yang dengan sengaja membuang anaknya atau berusaha menggugurkan kandungan dengan alasan gila dan tak masuk akal. Anak berhak atas kehidupan. Anak berhak menikmati dunia layaknya kita. Selamat hari anak nasional. Better late than never.  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-6577284808985985105?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/6577284808985985105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=6577284808985985105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6577284808985985105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6577284808985985105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/satu-kayuh-berdua.html' title='SATU KAYUH BERDUA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJrC6S66PpI/AAAAAAAAAFI/sEFctwXshgU/s72-c/foto+di+gethek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2068879847482184288</id><published>2008-08-07T02:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T02:28:46.982-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soulmate'/><title type='text'>THE GURU</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq_qwpkcJI/AAAAAAAAAFA/YMgT5aYW2ek/s1600-h/foto+bareng+didi.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq_qwpkcJI/AAAAAAAAAFA/YMgT5aYW2ek/s320/foto+bareng+didi.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231704658478919826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;mas Didi Petet orangnya cool. Tak biasa bicara kalau tak ditabuh. Saya salut atas kedisplinan dan komitmen-nya. Meski hanya bertemu selama 3 hari, namun tak sedikit kenangan yang terekam di benak. Foto ini diambil di sebuah sudut di Hotel Tretes Raya PrigenPasuruan saat akhir kegiatan Penjurian Festival Video Edukasi 2008. Hayo tebak, mana yang Si Boy, mana yang emon? hehehe...akhirnya datang juga! &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2068879847482184288?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2068879847482184288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2068879847482184288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2068879847482184288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2068879847482184288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/guru.html' title='THE GURU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq_qwpkcJI/AAAAAAAAAFA/YMgT5aYW2ek/s72-c/foto+bareng+didi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-512561271368466263</id><published>2008-08-07T02:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T02:29:55.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soulmate'/><title type='text'>RISANG SANG PENAKHLUK</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq-JQrdNjI/AAAAAAAAAE4/vhBo5uA1sas/s1600-h/foto+bareng+risang.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq-JQrdNjI/AAAAAAAAAE4/vhBo5uA1sas/s320/foto+bareng+risang.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231702983449589298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namanya Risang. Seorang anak muda dari Probolinggo. Dia adalah sahabat yang mengajariku tentang pertahanan hidup yang hebat. Meski menyandang tuna rungu, Risang tak gentar menghadapi setiap tantangan. Dia adalah orang yang mandiri, melakukan segala sesuatu dengan keyakinan diri yang penuh. Risang adalah pemuda multi talenta. Dia berkeinginan menjadi seorang ahli Komputer dan desainer. Satu lagi yang membuatku salut, Risang mengajariku untuk tidak malu karena beda. Risang mengajariku tumbuhkan kepercayaan diri. Thanx Sobat. Aku mengenangmu selalu dan selalu. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-512561271368466263?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/512561271368466263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=512561271368466263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/512561271368466263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/512561271368466263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/namanya-risang.html' title='RISANG SANG PENAKHLUK'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq-JQrdNjI/AAAAAAAAAE4/vhBo5uA1sas/s72-c/foto+bareng+risang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-3306346815505148792</id><published>2008-08-06T04:24:00.001-07:00</published><updated>2008-08-07T02:13:06.989-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soulmate'/><title type='text'>NAIK KELAS</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq8chvWPyI/AAAAAAAAAEw/K-NSlF3f3Bg/s1600-h/foto+anakku+perpisahan+sekolah.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq8chvWPyI/AAAAAAAAAEw/K-NSlF3f3Bg/s320/foto+anakku+perpisahan+sekolah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231701115423571746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anakku sekarang TK B. Sepertinya dia tak pernah berhenti berekplorasi tentang apapun. Tak sangka hidup dengan belahan jiwa seperti dia mampu memberikan pembelajaran yang banyak sekali yang belum pernah kutemui hanya dengan sekadar berandai-andai sebelumnya. Dia adalah inspirasi sepanjang hariku. Pelita jika aku terjebak dalam kelam langkahku.&lt;br /&gt;Terima kasih atas tulusmu, Nak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-3306346815505148792?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/3306346815505148792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=3306346815505148792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3306346815505148792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3306346815505148792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/naik-kelas.html' title='NAIK KELAS'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SJq8chvWPyI/AAAAAAAAAEw/K-NSlF3f3Bg/s72-c/foto+anakku+perpisahan+sekolah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2404503833852901084</id><published>2008-08-06T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T04:07:51.046-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>SPORTIVITAS ITU PERLU DI SEMUA BIDANG</title><content type='html'>Sering saya berpikir, semiskin apa negara kita. Atau pertanyaannya kita bikin lebih sempit, semiskin apa mental bangsa kita? Kebetulan awal minggu ini saya pulang ke surabaya naik kereta api. Ketika tiba di loket, ternyata jatah kursi telah penuh dipesan sebelumnya. Tetapi masih saja pihak KAI membuka untuk tiket tak bernomor duduk. Celakanya, karena menimbang mengejar waktu, atau terkondisi tak punya pilihan lain, saya terpaksa membelinya. Saya menyadari saya goblok karena memberikan pembenaran atas penyimpangan ini. Karena saya tak begitu yakin uang tiket itu akan dihitung sebagai pemasukan resmi negara. Kedua pihak, saya dan KAI jelas keliru sebenarnya. saya memberikan sikap permisif, dan dia dengan sadar melanggar aturan.&lt;br /&gt;Itu satu. Lalu kemudian saya menaiki kereta yang dimaksud. Jelas saya tak mungkin mendapatkan kursi, dan saya tak mungkin mengakuisisi hak orang lain. Saya mencoba masuk restorasi untuk duduk di sana, karena dari luar saya melihat gerbong itu kosong. Ternyata saat saya mau duduk, langsung dicegat pengelola restorasi. Dia memberikan alternatif, yang saya rasakan lebih sebagai pemaksaan halus, bahwa jika saya hendak duduk di sana, mesti bayar 25 ribu tambahan, dengan memperoleh fasilitas makan nasi goreng dan segelas teh hangat plus jaminan tidak diusir. Bagus! Saya terjebak, karena tak mungkin juga saya mesti berdiri selama tak kurang dari lima jam selama perjalanan. Saya merasakan kesialan bertubi. ya sudah. Tak mengapa. Sikap permisif yang keliru saya lakukan lagi.&lt;br /&gt;Itu dua. Ketiganya, saat itu ternyata ada juga seorang yang duduk di depan saya punya nasib serupa. Bedanya dia memang sengaja, saya tidak. Sengajanya dia sudah 4 tahun melakukan hal itu, yaitu naik sebagai penumpang gelap, melakukan transaksi dengan pihak Kereta Api, membayar di atas kereta dengan harga damai. Dan KAI sekali lagi merasa itu hal yang sudah jamak. saya sebal, saya perlu mengeluarkan uang tiket plus 25 ribu, sedang dia hanya membayar separoh harga tiket dan bebas duduk di restorasi sampai tujuan. Ueenaknya! Menyakitkannya lagi, dia membayar petugas itu tepat di bawah meja di depan saya.&lt;br /&gt;Sesaat setelahnya, kondektur kereta duduk di depan saya. Kami banyak mengobrol tentang apa saja. Sampai pada pengalaman-pengalamannya selama menjadi kondektur. Ternyata dia sering sekali mendapati penumpang gelap seperti itu. Tetapi katanya, apa mau dikata, karena kereta sudah berjalan, mereka tetap dikenai tarip tapi sesuai kemampuannya. Lho kok? saya iseng lagi bertanya, orang yang seperti apa mereka. Dia menjawab biasanya aparat, polisi atau militer. Biasanya mereka minta diskon sampai 50%. Alasannya? Pembicaraan selesai. Tak ada yang berani bicara.&lt;br /&gt;Saya berpikir, mungkin kalau semua warga negara diberi hak punya senjata, mungkin bisa juga naik kereta dapat diskon 50% juga ya? Karena sampai saat ini saya tidak juga menemukan korelasi logis atas perbedaan fasilitas ini selain hal itu. Kalau alasannya mereka kan garda depan penjaga bangsa. saya rasa semua profesi yang luhur pun adalah kekuatan bangsa. Dan saya merasa, setiap orang punya problem. Mungkin gaji kecil, kebutuhan banyak, dan alasan remeh temeh lainnya. Tapi kan semua orang merasakan? Maaf, bukannya saya tidak suka dengan sesuatu profesi, tetapi saya jelas sebal dengan orang-orang yang sok berjuang untuk negara padahal perilakunya justru menghancurkan perekonomian negara. Karena saya juga punya kakak yang militer dan saya pernah juga mengajukan pertanyaan serupa, dan dia sama sekali tidak bisa menjawabnya dengan tepat.&lt;br /&gt;Terpikir tidak misalnya oleh PT. KAI, jika kelebihan muatan, maka beban akan semakin berat, padahal kemampuan rel, misalnya, tidak mampu menyangganya. akibatnya akan banyak : rel rusak sebelum waktunya, gerbong rusak sebelum waktunya, terjadi kecelakaan karena tidak stabilnya kereta, sehingga diperlukan perbaikan yang terlalu sering menguras uang negara, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Saya merasa bersalah sekali kali ini. Merasa gobloknya lebih-lebih. Ya, semoga kepala PT. KAI membaca tulisan ini. Juga semua orang yang pernah melakukan kesalahan yang sama dengan saya, atau bahkan lebih salah, atau kesalahan kecil. saya kan cuma bisa mengajak saja, yuk bersikap sportif....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2404503833852901084?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2404503833852901084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2404503833852901084' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2404503833852901084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2404503833852901084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/08/sportivitas-itu-perlu-di-semua-bidang.html' title='SPORTIVITAS ITU PERLU DI SEMUA BIDANG'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-7982957304715464406</id><published>2008-07-28T19:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T19:55:17.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hot news'/><title type='text'>MERENTANG WAKTU</title><content type='html'>Uh. Ternyata cukup lama aku tak menulis sesuatu di sini. Ribu kejadian mungkin telah berjalan dan menyentuh sisi-sisi hidupku. Maaf jika aku lupa bercerita padamu sekian waktu. Tentang apa saja. Padahal mungkin dalam diriku ada yang ingin kusampaikan segera, tetapi selalu kalah dengan "rasa" sibuk sebagai orang kota kebanyakan.&lt;br /&gt;kali ini aku menulis lagi. Meski sekadar menyapa dahulu, belum menyentuh esensi.&lt;br /&gt;Aku sedang teringat sumiarsih.&lt;br /&gt;Aku sedang mengikuti berita pembunuhan berantai oleh pemuda Jombang.&lt;br /&gt;Aku sedang tidak habis pikir tentang orang yang menyangkal keterlibatannya dalam konspirasi meski nyata dia terbukti.&lt;br /&gt;Aku sedang berduka atas meninggalnya Pak Syahrir.&lt;br /&gt;Aku sedang lega eventku sukses tergelar. &lt;br /&gt;Aku sekarang kenal dengan Didi Petet.&lt;br /&gt;Aku baru saja bertukar biola dengan Rangga, pengamen jalanan kawasan Pucang.&lt;br /&gt;Aku masuk angin lagi gara-gara nongkrong bareng teman-teman Pustekkom nyanyikan lagu-lagu KLa Project : wuih, dahsyat ternyata semuanya KLanis!&lt;br /&gt;Aku juga sedih dapat kabar India di Bom.&lt;br /&gt;Aku sedang rindu anakku yang terus meminta CD Idola Cilik.&lt;br /&gt;Aku semakin mencintai istriku yang sedang hamil anak kedua Kami.&lt;br /&gt;Aku semakin arif melayani orang lain.&lt;br /&gt;Aku sangat ingin berlibur ke Magelang.&lt;br /&gt;Aku ingin maju dan tidak stag.&lt;br /&gt;aaku ingin segera memberangus rasa ragu-raguku terhadap apapun yang menghalangi masa depanku.&lt;br /&gt;Aku bertemu teman kuliah di milis.&lt;br /&gt;Aku kemarin bertemu Pak Arif Rahman dan Dik Doank di Satukan Hati Cerdaskan Bangsa.&lt;br /&gt;Aku sedang ingin menulis tapi tak tahu apa yang ingin kutulis.&lt;br /&gt;Aku pengen back to walk : beli sepeda untuk berangkat ke kantor.&lt;br /&gt;Dan masih banyak yang melekat di otakku.&lt;br /&gt;Tetapi aku sama sekali lelah. Aku sedang ingin beristirahat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-7982957304715464406?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/7982957304715464406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=7982957304715464406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/7982957304715464406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/7982957304715464406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/07/merentang-waktu.html' title='MERENTANG WAKTU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-8745625890821689740</id><published>2008-06-24T00:13:00.000-07:00</published><updated>2008-06-24T00:42:38.084-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>MENGHARGAI DIRI SENDIRI</title><content type='html'>Bagaimana cara kita menghargai diri sendiri? ya, tentu saja pertama kali yang mesti kita lakukan adalah dengan cara menghargai orang lain. Bagaimana cara menghargai orang dengan baik? Tentu saja dengan menghargai pendapatnya, menghargai privacy-nya. Bagaimana kita tahu batas-batasnya? Coba kau perhatikan apakah dia kurang nyaman mendengar pertanyaanmu atasnya, atau dia berubah ekspresi saat kau mengusik dengan membincangkan tentangnya. Tentang apa saja. Bisa tentang riwayatnya, kehidupan pribadinya atau apa saja. Atau dia tampak menahan gelisah ketika kau membual tentang kehebatanmu.&lt;br /&gt;Tidak menghargai orang lain satu diantaranya juga adalah selalu menyombongkan diri. Menganganggap orang lain jauh di bawahnya, ilmunya, pengetahuannya, kekayaannya, pengalamannya, dan sebagainya; dengan menutup mata tanpa mencari tahu ihwal siapa dia, dan sepak terjang apa saja yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;Orang yang tidak menghargai orang lain, adalah orang yang tidak menghargai diri sendiri. Orang yang tidak menghargai diri sendiri mendekati kriteria orang yang bebal. Identitasnya selalu lekat dengan bermulut besar, tak bisa membedakan kebenaran dan kebohongan, tukang membual, selalu merasa penting, dan merasa setiap omongannya cerdas padahal bertolak belakang sama sekali. Dia, orang ini, tak pernah jera meskipun sering merugi karena ucapannya sendiri.&lt;br /&gt;Orang yang tidak menghargai diri sendiri selalu membicarakan kehebatan dirinya dan menafikan prestasi orang lain. Orang yang tidak menghargai diri sendiri adalah orang paling bodoh sama sekali di dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-8745625890821689740?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/8745625890821689740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=8745625890821689740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8745625890821689740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8745625890821689740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/06/menghargai-diri-sendiri.html' title='MENGHARGAI DIRI SENDIRI'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-4509541296116748973</id><published>2008-06-19T22:50:00.000-07:00</published><updated>2008-06-20T00:25:23.031-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>KEHILANGAN TAK SELAYAKNYA DISESALI</title><content type='html'>Semalam, ketika Saya mengunjungi sebuah pameran di Gramedia Expo Surabaya, saya mengalami kejadian kecil yaitu kehilangan helm dan jaket di tempat parkir. Sebuah tempat parkir yang didesain sedemikian rupa sehingga seperti mustahil akan terjadi tindak kejahatan. Tapi itulah, semuanya terjadi. Barang saya lenyap dan hanya meninggalkan sisa tali helm yang menggantung pasrah bekas irisan senjata tajam.&lt;br /&gt;Terus terang saya sama sekali tak merasa kecewa atau kehilangan. Mungkin lebih mengarah ke keheranan saja. Eh, ternyata akhirnya hilang juga...padahal selama ini ditempat-tempat lain, bahkan di tempat parkir umum pinggir jalan, tak pernah ada yang menjamahnya. Bukan karena merasa kaya, tapi yang justru saya pikir buat apa sih kita lalu kebakaran jenggot?&lt;br /&gt;Tak bijak rasanya menyalahkan orang lain. Bisa saja saya salahkan tukang parkirnya. Bisa saja saya salahkan teman saya yang mengabari ada pameran tersebut. Bisa saja saya salahkan nasib. Bisa saja saya salahkan Tuhan. Bisa saja saya salahkan seluruh dunia. Tapi apakah semua itu membuat helm dan jaket saya kembali? Absolutely TIDAK!&lt;br /&gt;Mungkin malah saya bisa membuat orang lain kehilangan pekerjaan. lalu keluarganya tidak bisa makan karenanya. Atau membuat orang lain merasa bersalah, lalu karena kepikiran dia mesti cari-cari uang, hutang sana-hutang sini buat mengganti. Celakanya karena tak dapat-dapat uang, dia jadi stres dan jatuh sakit. Tapi sekali lagi, apakah itu membuatku puas? TIDAK. Karena saya akan merasa sama saja dengan pencuri itu. Membebankan masalah pribadi kepada orang lain. Sangat tidak bijak. Karena setiap orang punya masalah sendiri-sendiri dan kita sama sekali tidak berhak membuat orang menanggung nasib kita. Jika mental saya masih demikian, maka saya termasuk orang yang sangat miskin. Orang yang tidak pernah menghargai diri sendiri. Orang yang dengan suka cita menari diatas penderitaan orang lain.&lt;br /&gt;Saya hanya perlu berdoa. semoga ditangan pencuri itu, helm dan jaket saya bermanfaat. dan saya jadi ingat seorang teman, Andrea Hirata, mengatakan dalam novelnya : Tuhan tahu tapi menunggu....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-4509541296116748973?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/4509541296116748973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=4509541296116748973' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/4509541296116748973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/4509541296116748973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/06/kehilangan-tak-selayaknya-disesali.html' title='KEHILANGAN TAK SELAYAKNYA DISESALI'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-3343079142576474914</id><published>2008-05-25T18:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-25T20:02:56.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi hidup'/><title type='text'>MISKIN BUKAN PILIHAN</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SDohy3RZLTI/AAAAAAAAADM/9qvn9HqBoSk/s1600-h/antribbm.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SDohy3RZLTI/AAAAAAAAADM/9qvn9HqBoSk/s320/antribbm.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204509477094108466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Saya dengar hari ini di seantero Surabaya, sedang berlangsung demo kenaikan tarif oleh sejumlah awak angkutan kota. Ini adalah efek domino dari kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang kian tak terjangkau. Kaum pendemo sebelumnya sudah kalah dengan mulai diberlakukannya harga baru BBM yang tidak populer itu. Maka, ya hanya demo dan demo yang menjadi kesempatan yang bisa dilakukan oleh rakyat kemudian, karena ironisnya DPR juga hanya menjadi macan ompong. Dan polisi yang sebenarnya terkena dampaknya juga harus memasang wajah angker melawan pendemo. Rakyat dihadapkan dengan rakyat. &lt;br /&gt;Propaganda pemerintah yang mengatasnamakan kepentingan negara, justru memperpuruk rakyatnya. Mungkin rakyat, demikian juga problem sosialnya ditempatkan hanya sebagai data statistik angka-angka saja, meski kita tahu ini adalah riil. Nyata senyata-nyatanya jika sebuah kebijakan sangat berdampak pada kehidupan mereka : tentang kemampuan berusaha, tentang apa yang akan mereka makan, tentang bagaimana melanjutkan hidupnya esok hari. &lt;br /&gt;Bantuan Langsung Tunai (BLT) menurut saya hanya memberikan nafas hidup beberapa saat saja. Ini tak menjadi solusi mensiasati harga-harga kebutuhan yang ikut melambung. Celakanya, tidak semua yang berhak menerima. Spesifikasi kriteria miskin masih terlalu absurd. Padahal banyak juga yang meskipun sudah memiliki pekerjaan tetap, misal pelayan toko, pembantu rumah tangga, kru angkutan, buruh pabrik,  dengan gaji yang ada, mereka tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan. Padahal mereka sudah menghempaskan diri dengan menutup mata perihal gaya hidup, atau kebutuhan skunder lainnya. Mereka kadang menggantungkan hidup besok pagi dengan berhutang ke tetangga atau rentenir, atau kadang menggadaikan barangnya yang tidak seberapa.&lt;br /&gt;Ya, tapi kebijakan sudah divoniskan. Kebijakan yang terasa tidak bijak sebenarnya. Lebih tepat disebut keputusan sepertinya. Keputusan yang final, yang tidak boleh dianulir, demi kepentingan negara, meski entah yang dinamakan negara itu seperti apa bentuknya. Keputusan yang terencana rapi dengan tidak memandang kepentingan riil rakyat.&lt;br /&gt;Sekian banyak presiden kok ya tidak menuntaskan masalah kita ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-3343079142576474914?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/3343079142576474914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=3343079142576474914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3343079142576474914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3343079142576474914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/05/miskin-bukan-pilihan.html' title='MISKIN BUKAN PILIHAN'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SDohy3RZLTI/AAAAAAAAADM/9qvn9HqBoSk/s72-c/antribbm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-7390112739839697889</id><published>2008-05-15T06:12:00.000-07:00</published><updated>2008-05-25T20:01:34.290-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>RIWAYAT MANUSIA</title><content type='html'>Masa depan tak tergantung pada &lt;strong&gt;siapa kita&lt;/strong&gt; saat ini&lt;br /&gt;Masa depan bukan terjadi karena &lt;strong&gt;apa kita&lt;/strong&gt; kini&lt;br /&gt;namun,&lt;br /&gt;apa yang &lt;strong&gt;kita&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;lakukan&lt;/strong&gt; saat ini&lt;br /&gt;terhubung secara linear dengan masa depan&lt;br /&gt;Siapapun dirimu, apapun dirimu, tak penting kini&lt;br /&gt;yang terpenting adalah buah pikiranmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-7390112739839697889?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/7390112739839697889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=7390112739839697889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/7390112739839697889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/7390112739839697889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/05/riwayat-manusia.html' title='RIWAYAT MANUSIA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-7168233165923311395</id><published>2008-05-14T03:40:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T03:51:32.073-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>RENJANA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Hujan jatuh. Menyerta dengannya, saudara kandungnya yang bernama nelangsa. Aku menghirupi bau tanah basah. Nyeri lalu menyeruak seketika dalam alam maya. Kenangan-kenangan menggelinding di depan mata. Kenangan yang semestinya tak terputar kembali. Kenangan yang harus mengingatkanmu : seseorang yang telah mencantumkan luka radang tak berkesudahan.&lt;br /&gt;         Tempias air di beranda menyentuh mukaku sesegar cinta terpendam. Dia pun mengajak serta sahabatnya yang bernama prasangka.&lt;br /&gt;       Aku telah hidup dalam kegelisahan yang memata rantai. Menari lepas tak bertujuan. Menjadi manusia yang miskin, bukan harta, namun miskin dirimu. Betapa sakit kala cinta tak terpanggil. Betapa harapan menghampa, betapa angan tak pasti terlukis. Aku sekian kali memeluk angin. Mencumbunya dengan segenap jiwa yang sisa. Mengajaknya bercinta sambil berteriak lantang kepada dunia,”Anakku kelak adalah badai yang berkuasa atas kegelapan dan cinta!”&lt;br /&gt;           (Itu pertama kali aku mulai dipanggil gila. Padahal tidak. Ah, tapi entah. Mungkin iya.)&lt;br /&gt;      Seribu tetes hujan menimpa genteng yang membasah. Riuh suaranya menyekatku dalam kesendirian laten. Langit masih muram. Sebebas mata memandang semua hitam kelam. Sore seperti ini adalah malaikat maut yang mencoba mengulurkan tangan mengajakku tamasya dalam mimpi orang mati. Aku masih saja diam dengan rokok yang telah terhisap berbatang-batang. Duka yang mendalam kurasakan bertubi-tubi. Harusnya ada wanita yang merengkuhkan tangannya, memelukku dari belakang dengan kasih sayang seluas samudra. Mestinya tanganku cukup sibuk memeluk seorang anak. Tetapi, bayang-bayang yang justru menikamku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;            Sekilas tampak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; anak kecil berlarian berteriak dengan baju basah kuyup. Lalu seorang wanita pekerja lewat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbalut mantel kuning selutut – berjalan dengan mata sedikit curiga padaku. Gang sempit ini terbasuh air seluruhnya. Lalu kilat tiba-tiba menyambangi. Disusul suara yang amat menggelegar. Cukup untuk membangunkan bayi di samping rumah yang sedang terlelap. Dia menjerit kencang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;            Hujan kali ini jatuh cukup berlimpah. Dan kereta kencana belum jua menjemputku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         Secangkir kopi pahit disajikan di atas meja di depanku. Lalu perempuan tua itu beringsut lagi ke dalam. Tak sepatah kata terucap. Hanya anggukan kepala dan tangan menyilakan. Seulas senyum cukup membalasnya. Pembantu setia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Saat itu, kirai bambu makin terombang-ambing oleh angin. Aroma hangat kopi hanya mampu memalingkanku sesaat. Sangat ironis mengharap cerahnya masa depan bebarengan dengan keinginan untuk mengakhiri hidup. Kereta kencana. Kereta kencana itu belum menjemputku. Atau bukan kereta kencana? Bagaimana kalau segerombolan bayang-bayang hitam dengan obor di tangan, yang ditakdirkan sebagai penjemput para pendosa untuk di paksa menyelam ke dasar bumi, lalu dihujani beribu pertanggungjawaban, dan akhirnya dibakar dalam bara menganga? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;           Tetapi apa pun, aku pikir jauh lebih pasti daripada hidup tanpa cinta. Saat ini hidup tak lebih seperti lorong gelap tak berkesudahan. Tak ada yang bisa memaksaku untuk kemana. Tak ada yang cukup kuat menahanku untuk menjadi layaknya manusia : bertujuan, berusaha, dan punya impian indah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Kau terlalu jauh di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Dalam hujan seperti ini, kau pasti sedang dalam dekapan lelaki yang meluluh lantakkan jiwamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;           “Mengapa harus dia?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;           “Hati telah memilih, Bu. Bagaimana mungkin ku khianati?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;           “Ya, tapi perempuan itu tak memilihmu. Tuhan tak memilihmu, anakku.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Raut ibu sangat renta saat menjengukku yang teronggok lemas oleh penyakit liver. Betapa harap bertabur di langit untuk segera menimang buah hati baru dari rahim wanita yang hendak kunikahi. Itu dulu. 2 tahun tak merubah arah pendirianku. Konsekuensi harus tertanggungkan kini. Ternyata semakin hari semakin membenamkan diriku dalam kepedihan sangat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;    Kau wanita terindah dalam hidup. Aku mencoba melupakanmu, Namun, sering rasa rindu mendesak-desak merajai dalam dada. Lalu sekejap saja kau telah terbayang di sini, dan aku berada dalam ketidakwarasan. Tak pernah bertanya dimana aku, tak pernah menanyakan darimana datangmu. Ingin kusentuh halus lilin wajahmu, dan mencari jiwamu untuk kupeluk. Keinginanku adalah memberikan kehangatan bagi jiwamu. Kau telah mengalaminya. Merasakan dirindukan seseorang yang begitu dalam jatuh cinta. Oleh aku di sini. Aku sangat berharap kau juga merindukan aku, hingga aku mencapai ekstasi. Tapi bagaimana mungkin?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;          Sayang, masalahnya kini aku tak jatuh cinta lagi. Meski membara, kerinduan itu telah cukup lama berubah menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;padang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; gersang, mematikan siapa saja yang berani melewatinya tanpa bekal cukup air. Aku tak pernah berbekal apapun. Aku pikir cinta cukup membeli apa saja di dunia ini. Tetapi aku lupa, pembeli berhak juga menentukan apa yang dimauinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;          Dan lukisan itu teronggok di sudut kamar. Wajahmu dengan melati terselip di kuping. Hujan ratus tahun menambahkan warna karat di kanvasnya. Tak pernah kupindahkan barang sejengkal. Kubiarkan saja. Kubiarkan kau hendak menangis atau tersenyum. Aku tak berbuat banyak atasmu, karena hidup bagiku kini hanya masalah pilihan : masa depan (&lt;i style=""&gt;the fuckin’ dream&lt;/i&gt;), kereta kencana, atau gerombolan bayang hitam berobor api neraka. Apalagi dalam hujan tak berkesudahan seperti saat ini. Semakin aku merasakan mereka sangat dekat bertarung hebat memperebutkanku. Ketipak kereta kencana. Suara langkah berat si bayang hitam. Selalu demikian. Tapi mereka akhirnya pergi juga meninggalkanku dengan sepenuhnya rasa kecewa. Kutanya mengapa pergi, bawa aku. Mereka hanya menjawab yang Kuasa memberikan tugas mendadak di ujung dunia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Ah, aku terpedaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Puluhan lagu telah berbicara tentangmu. Lewat denting gitar dahulu terabadikan. Komposisi itu masih tersebar di seantero kamar. Berkisah tentang jalan kenangan, atau penyatuan jiwa. Dahulu aku pikir Tuhan Maha Adil memilihkanmu untukku. Tetapi aku mulai tak yakin demi kau semakin menyemaikan luka, menjadi radang di hati. Aku mulai meninggalkan semuanya. Tiga hari raya kubiarkan hampa. Aku sudah enggan sujud pada-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Tuhan mungkin tak lagi memandangku sebagai sesuatu. Bahkan setan pun enggan mengajakku. Aku hanya berteman kelam. Sedang orang sekitar menganggapku sebagai sampah yang hanya bisa teriak-teriak disaat tak tepat. Seperti bangkai yang mesti dibakar hangus. Pandangan risih dan muak sering kuterima. Bibir-bibir berbisik pelan,”Dia gila karena menanggung cinta…!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Sangat menyakitkan tak mampu apa-apa. Aku tak mengerti aku masih waras atau tidak. Tak memiliki dan dimiliki. Tak tahu kapan renjana ini berkesudahan.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Patua 26&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di Balai Pemuda &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;6 Mei 2008&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Saya kehilangan moment menggenapkan kejadian pelaku. Bagi saya ini cukup. Saya tak mau terjebak dalam hanya permainan kata. Apa dan bagaimana kejadian selanjutnya,lanjutkan saja dalam mimpi-mimpi Anda.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-7168233165923311395?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/7168233165923311395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=7168233165923311395' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/7168233165923311395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/7168233165923311395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/05/renjana.html' title='RENJANA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-6282240337079850777</id><published>2008-05-12T18:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T23:14:39.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>KICK ANDY : refleksi diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SCj2Fd0aETI/AAAAAAAAACU/hdxvYFWmg0U/s1600-h/cover-kick-andy-braile_edit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SCj2Fd0aETI/AAAAAAAAACU/hdxvYFWmg0U/s200/cover-kick-andy-braile_edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199676343563456818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kick Andy segera merebut hati penonton televisi karena program ini mengangkat berbagai kisah hidup manusia yang kadang sulit dipercaya benar-benar terjadi di sekitar kita. Berbeda dengan program-program televisi lain, yang lebih mengedepankan akal, Kick Andy mengajak kita menonton dengan hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Buku ini memuat kumpulan kisah yang ditayangkan di Kick Andy, yang mampu membuat kita termotivasi, terinspirasi, dan mensyukuri hidup yang sudah diberikan Tuhan. Kisah-kisah itu juga membuat kita mampu bangkit dari rasa putus asa dan menatap hidup dengan optimis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bagi saya pribadi, buku ini membuka mata hati kita, bahwa setiap informasi/ berita yang ada di media belum tentu adalah peristiwa sebenarnya. Kita mesti pintar-pintar dan bijak dalam menjustifikasi seseorang bersalah atau tidak. Termasuk berhati-hati dalam menyatakan sesuatu terhadap seseorang. Jagalah hati. Karena mereka adalah diri kita yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-6282240337079850777?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/6282240337079850777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=6282240337079850777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6282240337079850777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6282240337079850777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/05/kick-andy-segera-merebut-hati-penonton.html' title='KICK ANDY : refleksi diri'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SCj2Fd0aETI/AAAAAAAAACU/hdxvYFWmg0U/s72-c/cover-kick-andy-braile_edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-8455082461943177097</id><published>2008-05-12T18:25:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T04:00:50.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi hidup'/><title type='text'>Jajan Rujak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SCjuh90aERI/AAAAAAAAACE/Fan7plLH2QY/s1600-h/belirujak2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SCjuh90aERI/AAAAAAAAACE/Fan7plLH2QY/s320/belirujak2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199668037096706322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berada di kawasan Jl. Dr. Soetomo Surabaya, pak Bedjo menggantungkan hidupnya selama 13 tahun dengan menjual rujak manis. Pak Bedjo meninggalkan kampung halaman di Lamongan mengadu nasib di kota yang semakin hari semakin tak bersahabat ini. Dia adalah satu dari puluhan pedagang sejenis di jalan ini. Tema kemiskinan mungkin sudah klise digemborkan, cukup jenuh menjadi komoditi rating media, tapi realitas tetap tak mungkin terbantahkan. Yang pasti adalah bagaimana upaya kita menghapuskannya? Jangan terlalu asyik mengajak orang lain berbuat, kita yang mesti bergerak! Cukup slogan-slogan itu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-8455082461943177097?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/8455082461943177097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=8455082461943177097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8455082461943177097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8455082461943177097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/05/jajan-rujak.html' title='Jajan Rujak'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/SCjuh90aERI/AAAAAAAAACE/Fan7plLH2QY/s72-c/belirujak2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-1606571817809199290</id><published>2008-04-10T18:41:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T04:01:22.397-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hot news'/><title type='text'>INFORMASI : FESTIVAL VIDEO EDUKASI 2008</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Ada sebuah lomba pembuatan video edukasi.&lt;br /&gt;Namanya Festival Video Edukasi 2008. terbuka untuk umum dan pelajar/ mahasiswa. Total hadiahnya&lt;br /&gt;menarik : 90 juta rupiah!&lt;br /&gt;Buat kamu yang merasa berbakat atau konsentrasi ke bidang&lt;br /&gt;sinematografi, kenapa tidak coba-coba? siapa tahu kau yang jadi&lt;br /&gt;pemenangnya. Pengumpulan karya paling lambat 23 Juni 2008.&lt;br /&gt;Jadi segera aja.&lt;br /&gt;Apa dan bagaimananya festival ini, silakan aja klick :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.festivalvideoedukasi.com/"&gt;www.festivalvideoedukasi.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-1606571817809199290?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/1606571817809199290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=1606571817809199290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/1606571817809199290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/1606571817809199290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/04/informasi-festival-video-edukasi-2008.html' title='INFORMASI : FESTIVAL VIDEO EDUKASI 2008'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-8004868796237660388</id><published>2008-04-08T04:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T04:01:48.719-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi hidup'/><title type='text'>DITEMPA ZAMAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/R_tV8Ee3nWI/AAAAAAAAAB0/GOubQV7-1yM/s1600-h/mbahmbah.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/R_tV8Ee3nWI/AAAAAAAAAB0/GOubQV7-1yM/s320/mbahmbah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186833886330985826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Foto ini aku dapatkan disela shooting sebuah video pembelajaran di sebuah desa di bilangan Probolinggo. Ternyata tidak semua rakyat Indonesia mampu melakukan konversi. Jangankan beralih ke gas, coba lihat nenek ini, beliau masih setia dengan tungku perapiannya. Bukan masalah kemauan, saya pikir, tetapi kemampuan. saya sih cuma mau mengajak : yuk, sisihkan sebagian penghasilan kita kepada yang lebih berhak.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-8004868796237660388?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/8004868796237660388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=8004868796237660388' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8004868796237660388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8004868796237660388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/04/foto-ini-aku-dapatkan-disela-shooting.html' title='DITEMPA ZAMAN'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/R_tV8Ee3nWI/AAAAAAAAAB0/GOubQV7-1yM/s72-c/mbahmbah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-5704559000732874741</id><published>2008-04-03T23:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T04:02:44.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soulmate'/><title type='text'>FOTO ANAKKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/R_XJL0e3nTI/AAAAAAAAABg/fi7KS97XITQ/s1600-h/jinggaku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/R_XJL0e3nTI/AAAAAAAAABg/fi7KS97XITQ/s320/jinggaku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185271750890855730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;namanya SERUNI JINGGA INSAN KINASIH. Banyak arti terkandung di dalamnya. Termasuk segenap harapanku tertumpah di sana. Jiwanya kubiarkan menari sesuai nurani dan nalurinya. Tetapi aku tak berhenti memberinya marka agar tak tersesat. Babe, I Love You so much...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-5704559000732874741?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/5704559000732874741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=5704559000732874741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/5704559000732874741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/5704559000732874741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/04/foto-anakku.html' title='FOTO ANAKKU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w5OeHalEnYM/R_XJL0e3nTI/AAAAAAAAABg/fi7KS97XITQ/s72-c/jinggaku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-3857207037998284997</id><published>2008-02-13T03:34:00.000-08:00</published><updated>2008-05-14T04:03:13.041-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>ORANG TUA BERWAJAH SAHAJA</title><content type='html'>Orang itu sudah sangat tua. Wajahnya pekat pengalaman hidup. Kerut di dahinya seperti lipatan tanah pinggiran sungai. Ada sedikit menghitam di kerut itu, layaknya manusia khusuk. Pakaiannya sahaja, baju putih lengan panjang merangkapi kaos putih kusam. Sarungnya masih baru. Kakinya terbungkus selop plastik yang ujungnya mulai menganga. Dia memang sangat sahaja. Senyum mengembang tak henti dari mulutnya ketika orang berlalu lalang dihadapannya.&lt;br /&gt;Aku menaksir dia tak kurang dari 75 tahun. Orang tua dengan peci hitam itu berdiri dalam gemetar diterjang angin kasar dan saputan debu yang terbawa rintik gerimis di pertigaan Medaeng ini. Lima menit kemudian aku tergerak untuk mendekatinya. Semakin jelas baju putih itu telah basah di beberapa bagian, entah karena gerimis ini atau keringatnya yang keluar karena menahan kerentaan.&lt;br /&gt;“Bapak mau kemana?”&lt;br /&gt;Dia menoleh ketika tanganku memegangnya.&lt;br /&gt;“Jog..ja…” Kentara sekali getar suara itu semakin nestapa karena menggigil kedinginan. Kemudian diusapnya wajah sayu itu. Kuhirup aroma belas kasih.&lt;br /&gt;“Ikut Saya saja, pak! Kita satu arah. Saya menuju Muntilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Perjalanan ini sungguh lambat. Sepanjang jalan macet dipenuhi truk-truk dan bis saling berebut menjadi nomor satu. Sudah menjelang maghrib. Pak tua masih terjaga dalam pandangan kosong. Bajunya telah kuganti. Boy dengan cermat terus mengukur jalan di belakang setir. Sesekali ujung matanya menangkap bayangan pak tua yang terus saja bergumam seperti melafalkan mantra.&lt;br /&gt;Wajah pak tua masih tenang bersahaja. Aku bahkan tak tahu siapa dia dan mau apa. Tetapi nuraniku mendorong untuk memuliakannya. Garis wajah itu sekilas membawaku dalam kenangan tentang bapak. Dahulu adalah masa yang kubuang dengan sembarang. Tak sempat aku mendarmakan hidup, bapak terlanjur pergi ke surga. Kehilangan seseorang yang berarti adalah seperti terhempas dalam ngarai curam. Berteriak pun tak berguna.&lt;br /&gt;Mojokerto dihadapan mata. Aku terjaga dari kantuk yang sangat ketika sebuah sentuhan mendarat di bahu. Kutoleh, pak tua hendak berucap sesuatu.&lt;br /&gt;“Jogja…Langenastran…”&lt;br /&gt;“Saya antar bapak ke sana. Kerumah siapa?”&lt;br /&gt;“Purnomo…”&lt;br /&gt;“Anak bapak?”&lt;br /&gt;“Teman. Teman berjuang..Tentara Pelajar.”&lt;br /&gt;Boy menerima panggilan di selulernya. Aku dan Pak Tua masih melanjutkan pembicaraan.&lt;br /&gt;Setahun lalu pak tua dikirim anaknya ke Surabaya untuk diasuh anaknya yang lain. Pasca gempa Jogja, eksodus banyak terjadi. Jogja tidak kondusif, kata anaknya kala itu. Dia orang nomor satu di sebuah instansi pemerintahan daerah. Tetapi, pasca gempa, tak sanggup lagi katanya dia merawat pak tua. Pak tua adalah beban bagi stabilitas internal. Pun demikian setelah di Surabaya. Cukup dua bulan dalam kasih sayang anak, dia dicampakkan ke komunitas panti wreda. Padahal mereka dahulu berjanji akan setia sampai di ujung senja pak tua. Janji palsu.&lt;br /&gt;“Astaga, bapak lari dari panti itu?”&lt;br /&gt;Dia mengangguk pelan. Pelan sekali. Lalu kutawarkan untuk kembali ke anaknya yang di Jogja. Dia menggeleng. Memastikan tak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah itu, meski hatinya sangat melimpah untuk berbagi welas asih dengan keempat cucunya.&lt;br /&gt;“Aku sampah baginya…”&lt;br /&gt;Sebuah tusukan tiba-tiba menerjang lambungku. Perih menyayat mendekam dalam hangat darah. Aku seperti tertampar. Bayangan bapak kembali menyergap. Betapa tulus dia mentransfer hakekat hidupnya dalam setiap nafasku. Menunjukkan arti sebuah pilihan. Menyampaikan marka tentang kejujuran dan pengkhianatan. Belum juga kubalas, belum juga impas. Apakah kelak anakku mengerti tentang semua ini? Zaman sudah sangat kejam memaksakan kehendaknya. Setiap orang berjalan dengan hukumnya sendiri. Ampuni aku, pak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dan kembali pak tua bertutur tentang segala apa yang dia punya. Suaranya bergetar menyimpan rindu dendam yang tertahan. Hitam kelam kehidupan. Penuh amarah dalam tekanan intonasinya, tetapi sesunyi gemercik air pedesaan. Wajah itu tetap sahaja. Bahkan saat bercerita tentang istrinya tercinta yang terenggut maut di pintu lintasan kereta di bilangan Sorowajan. Bunyi istighfar melantun lirih. Mata beningnya melelehkan air mata luka. Aku membaca sejarah dari parasnya.&lt;br /&gt;Lalu pak tua meminta diri untuk bersandar. Matanya terpejam dalam. Nafasnya tersengal-sengal menata ruang-ruang kalbu yang mulai beterbangan entah kemana. Tangannya bersedekap. Batuk-batuk kecil merejam. Sangat terasa atmosfir kesendirian yang gelap dari dirinya. Orang yang terbuang.&lt;br /&gt;“Kita cari dokter, pak?”&lt;br /&gt;“Tak usah…ini biasa…” disambut batuk lagi.&lt;br /&gt;“Kau sudah banyak membantuku, nak…” terdiam sejenak ia, ”Ah, andai kau adalah anakku…”&lt;br /&gt;“Sudahlah, pak. Anggap saja begitu.” Tak sanggup aku dianggap sebagai orang berbudi. Aku hanya mencoba bertransaksi dengan Tuhan untuk pengampunan dosa-dosa masa laluku. Terlalu tinggi pak tua menilaiku.&lt;br /&gt;“Purnomo akan menungguku di ujung gang…”&lt;br /&gt;Pak tua menyerahkan secarik kertas bergambar sebuah denah daerah Langenastran Jogja. Ada nomor telpon. Diam-diam kuhubungi nomor itu saat pak tua sejenak terlelap. Lima dering lalu tersambung.&lt;br /&gt;“Halo? apa benar ini rumah pak Purnomo?”&lt;br /&gt;Seberang mengiyakan.&lt;br /&gt;“Bisa bicara dengan pak Purnomo?”&lt;br /&gt;Seberang diam sementara waktu. Tiga detik. Enam detik. Lalu terdengar suara serak, masih suara wanita yang tadi.&lt;br /&gt;“Bapak meninggal tiga hari lalu, mas…”&lt;br /&gt;Tercekat suaraku saat itu juga. Tak mampu kubicara. Kutoleh pak tua yang lelap dengan wajah sahaja, yang pasti sedang bermimpi bernostalgia dengan seseorang bernama Purnomo ini. Sebuah penantian yang menyayat hati. Aku bimbang, antara mengabarkan hal ini atau tidak kepada pak tua. Mungkinkah kusanggup memupus selembar asa yang mungkin inilah satu-satunya asa yang dia punya?&lt;br /&gt;Hampir separuh kota Jombang Kami lalui. Warung-warung gemerlap dihias lampu-lampu neon. Bergelantungan camilan penggugah selera. Kulihat jam tangan, pukul tujuh lebih sepuluh menit. Aku masih tercekat dalam rasa miris yang mendalam. Boy tampak gelisah pula.&lt;br /&gt;“What shall we do?”&lt;br /&gt;“Don’t ask me. Please, pikirkan sesuatu.”&lt;br /&gt;“Dia sudah tak punya siapa-siapa, Bam!” mencoba Boy memberi tekanan pada bicaranya tetapi sepelan mungkin dia berucap.&lt;br /&gt;“Aku tahu. Tapi tolong beri aku pendapatmu.”&lt;br /&gt;Kami berdebat cukup panjang. Boy tak mengijinkanku menitipkan pak tua di rumahnya yang hanya punya satu kamar itu. Aku pun galau bersikap untuk membawanya ke rumah. Tak cukup waktuku untuk menjenguknya seminggu sekali dan sangat tak bijaksana membebani istriku yang sedang hamil tua untuk mengurusinya. Cukup ini menjadi masalahku saja. Namun Panti sosial pun seperti tempat dimana kujual rasa kemanusiaanku. Aku kehilangan arah berpikir. Akal sehat mampet seperti got di kota-kota besar. Lapor polisi? mereka bukan manusia super yang mampu selesaikan semua masalah manusia.&lt;br /&gt;Aku kembali berbalik menatap wajah sahaja itu. Begitu tenang. Ada sunggingan di bibir pucatnya. Mataku menelusuri segenap jengkal tubuhnya. Pulas dia dalam tidur seolah nafasnya tak terhembuskan. Sebentar, tak terhembuskan? Seketika bulu kudukku meremang. Kusentuh tubuhnya. Pak tua diam saja. Lebih kuat kusentakkan dan dia terhuyung ke kiri, jatuh dalam diam. Matanya tetap terpejam. Tubuhnya kaku dingin.&lt;br /&gt;“Boy,” kusentuh temanku,”Dia mati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patua, 10 Maret  2007&lt;br /&gt;Danu Wiratmoko&lt;br /&gt;(Publikasi pertama di majalah VISI BPMTV edisi 2 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-3857207037998284997?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/3857207037998284997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=3857207037998284997' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3857207037998284997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/3857207037998284997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/02/orang-tua-berwajah-sahaja.html' title='ORANG TUA BERWAJAH SAHAJA'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-1568017140613680221</id><published>2008-02-13T03:33:00.002-08:00</published><updated>2008-05-14T04:03:43.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>MIMPI BURUK</title><content type='html'>Tiba-tiba aku berada digurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.&lt;br /&gt;Terseok aku mencoba mendaki gunung pasir. Kakiku terantuk sebongkah besar tengkorak kepala kerbau. Dilobang hidungnya masih tertancap gelang perak. Mulutnya menyeringai seperti kesakitan. Aku terus berjalan menuju barat, tempat kelak matahari bersemayam. Tapi hanya beberapa langkah ke muka, beralihlah matahari itu secara tiba-tiba membelakangiku. Aku bingung. Kubalikkan badan, matahari itu berpendar menjadi dua sama besar. Sengatannya lebih tajam hingga sekujur tubuhku berlumur keringat.&lt;br /&gt;Dari sisi kanan lalu bergulung pasir laksana angin puting beliung. Aku berlari menghindar, tapi derunya tak mampu kutahan. Aku terpelanting beberapa meter. Bergulingan dan jatuh lagi ke tempat semula. Mulutku memuntahkan darah segar. Dadaku terasa sesak. Aku mencaba bangkit disela pening yang sangat. Berjalan limbung mencoba menjamah matahari. Tanganku kugapai-gapai. Karena kata orang, matahari adalah sumber kehidupan. Aku ingin hidup.&lt;br /&gt;Mengapa di padang ini tak seorangpun kujumpa? Dimana aku? Aku berteriak kencang memanggil orang-orang terdekatku. Bapak, ibu, Laksita istriku. Mereka muncul diujung sana, sedang sholat jamaah. Sekuat tenaga aku berjalan. Lalu aku terjatuh lagi, terjembab. Ketika wajahku kusembulkan, mereka hilang. Fatamorganakah? Aku semakin frustrasi. Tangan dan kakiku mulai tak mampu kugerakkan. Tenggorokanku merindukan air segar. Terasa sekali napas tersengal. Ah, ajalku mungkin akan segera tiba.&lt;br /&gt;Suara-suara semakin seru terdengar. Perempuan mengaji. Lelaki bersholawat. Tetapi aku tak menemukan dari mana asal suara itu. Bumi terasa sangat luas sekali dengan hamparan pasir dan ilalang yang mulai terbakar sana-sini.&lt;br /&gt;Seketika langit menghitam. Angin berubah begitu saja menjadi sedingin es. Kilat menyambar-nyambar. Suaranya berdentuman berbalas dengan gemanya dari dasar bumi. Hujan deras menyusul. Cepat sekali. Aku merayap mencari teteduhan. Tak kutemukan. Air itu menghuncam tubuhku sangat tajam. Aku menjerit kesakitan.&lt;br /&gt;Lalu segenggam tangan renta tiba-tiba membantuku untuk bangkit. Kupandangi dia yang berbaju compang-camping dengan rambut beruban. Kurus sekali, namun cukup kuat untuk memapahku ke sebuah tempat yang entah mengapa tanpa bisa kupikirkan, ada ceruk tanah kecil mirip gua didepanku. Aku pasrah ketika dia meletakkanku disudutnya. Redup suluh menyala. Dia menyelimutiku dengan karung goni.&lt;br /&gt;“Kau siapa?” tanyaku,”Malaikatkah?”&lt;br /&gt;“Kau tak ingat aku? Coba kau ingat-ingat lagi..” Jawabnya.&lt;br /&gt;“Aku sudah mati?”&lt;br /&gt;Dia menggeleng. Dia lalu meracik sesuatu, “Kau harus bertahan disaat-saat seperti ini. Jangan dilihat dari apa makanan ini, makanlah..”&lt;br /&gt;Hampir muntah lagi aku ketika kulihat ternyata masih ada sisa tubuh cacing dan belatung di cawan tanah itu. Perutku mual seketika. Aku mencoba bertahan ketika melihat pak tua memakannya dengan lahap.&lt;br /&gt;“Nikmat..ayo coba. Hanya ini yang bisa kita makan. Tak ada yang akan menolongmu hidup kecuali makanan ini.”&lt;br /&gt;Semakin mual aku, dan muntahlah aku. Tubuhku jadi meriang tak karuan. Pak tua tertawa keras sambil berjalan menjauh semakin masuk ke gua. Dia menembus dinding dan hilang. Akal sehatku sudah tak mampu kugunakan.&lt;br /&gt;Dan Suara lalu-lintas Pingit memekakkan telingaku. Seperti mimpi aku terseret begitu saja. Didepan mataku menjulur tangan kurus dengan cawan tanah meminta-minta dibawah lampu merah. Lalu lima anak kecil berlarian mendekatinya. Aku sangat kenal dengan salah satunya, bukankah itu aku? Mereka meletakkan beberapa ekor cacing dan belatung di cawan itu dan berlari sambil tertawa-tawa. Anak-anak nakal. Orang tua itu menoleh. Ya, Tuhan. Orang tua itu. Orang yang baru saja menolongku dan menghilang di dinding itu.&lt;br /&gt;Sekelebat muncul seekor kerbau dengan cincin perak dihidungnya dari balik batu. Dia berusaha menyerudukku. Sisa tenaga kugunakan untuk menjejakkan kaki melompat ke kiri. Aku bergulingan dan kerbau menghilang menembus dinding.&lt;br /&gt;Aku masih terengah ketika kulihat di ujung yang lain seorang ibu muda sedang menyusui sang bayi. Diatas tempat tidur usang berkelambu dia meninabobokkan sambil bersenandung lagu jawa.&lt;br /&gt;“Yogyanira…kang para prajurit….”&lt;br /&gt;Aku sangat ingat sekali moment ini. Ibuku selalu menembang lagu itu tatkala aku bayi. Lalu pasti dia akan mendongeng tentang pangeran Diponegoro yang berjuang di Tegalrejo. Atau tentang Panembahan Senopati yang lantang melawan Kompeni.&lt;br /&gt;Didekatnya ternyata sang suami sedang asyik duduk di kursi goyang sambil membaca Koran diterangi bola lampu bersawang.&lt;br /&gt;“kapan mulai kau sapih anak itu, Bune? Jangan dimanja. Anak laki-laki harus kuat. Harus tegar. Sebab dia nanti mengemban amanat menjadi pemimpin..”&lt;br /&gt;Istri menoleh, “Dia masih belum mau, pak..Biarkan saja to.”&lt;br /&gt;“Yo, sakkarepmu. Tapi inget, perutmu itu juga harus dijaga. Sudah jalan enam to?”&lt;br /&gt;Sayup dibalik dinding bambu, suara wanita renta menderes Al-Ashr. Suara nenekku. Lalu kemudian menimpali puluhan suara lelaki berjanjen: “La illa ha ilallah…La illa ha ilallah…” Semakin keras, semakin mencoba menyadarkanku dari sesuatu yang aku sendiri tak tahu. Jantungku serasa tercabik-cabik. Suara itu seperti genderang drumband Akabri yang sering kulihat di karnaval tujuhbelasan. Dan kemudian kusaksikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melambai-lambaikan tangan di singgasana. Gagah benar. Prabawa agung.&lt;br /&gt;Lalu terdengar soundsystem menggemakan nyanyian perjuangan dari truk terbuka yang dihuni lelaki dan wanita berbaju adat dan tentara.&lt;br /&gt;Lalu sebuah teriakan,” Cooopeet!”&lt;br /&gt;Semua orang menoleh. Seorang lelaki kumuh berusaha lari dari kerumunan. Belasan lelaki lainnya menghalang-halangi langkahnya. Bapak menurunkanku dari bahunya, dan ikut menghajar lelaki itu. Suasana kacau. Sempritan polisi memekakkan telinga. Jalan Malioboro jadi riuh.&lt;br /&gt;Seketika, sebuah tangan kecil menarikku. Kutoleh, anak empat tahun sudah didepanku. Bimo adikku! Dia meringis dengan barisan giginya yang menghitam dan geripis. Dia menyeruak kerumunan. Saat kami bebas, kami telah berada di sebuah halaman yang kukenal sebagai beranda rumah pak Kadus. Suasana gelap. Penerangan hanya berasal dari lampu-lampu panjar di depan rumah warga. Berisik suara televisi pak Kadus menyiarkan pertandingan bola timnas Pra piala dunia.&lt;br /&gt;Kami berdua duduk di lincak bambu. Aku masih mendengar suara bapak mencari-cariku  yang hilang di Malioboro. Aku tak mengerti kenapa waktu bergulir begitu cepat. Tadi masih siang, beberapa detik saja sudah dalam suasana malam purnama.&lt;br /&gt;“Kamu kemana saja, Bimo? Bapak dan Ibu menangis sepanjang hari. Kau hanya tidur. Aku membangunkanmu, kau diam saja. Bapak lalu pingsan. Ibu juga. Mbah kakung menggendongmu. Semua orang ikut. Sejak itu kita tak ketemu. Kau kemana saja?”&lt;br /&gt;“mau ikut aku,Mas?”&lt;br /&gt;Dia menunjuk ke arah bulan yang bulat itu. Kami seperti terperangkap dalam sebuah kerucut hitam dengan ujung berlubang di atas sana.&lt;br /&gt;“Yo prakanca dolanan ing njaba, padhang mbulan padhange kaya rina…”&lt;br /&gt;Dia bernyanyi riang. Digandengnya aku. Lalu kami seketika saja terbang bersama ke arah bulan. Bulan itu tampak semakin terang saja. Bumi semakin jauh di bawah sana. Aku menembus atmosfir mengarungi angkasa berbintang.&lt;br /&gt;Ujung kerucut semakin dekat. Kukira bulan itu padat, ternyata hanyalah sebuah lobang terang seukuran tubuhku dan Bimo. Kami melewatinya. Saat itu rasa berdesir merambati tengkukku.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku sudah berada lagi di gurun tandus dan tersapu hantaman deru pasir yang mengkandaskanku ke bawah. Aku berguling-guling. Darah segar kembali menyembur dari mulutku. Terpisah aku dengan Bimo yang terpelanting jauh tersapu deras sungai di ujung desa. Suaranya tak henti meratap, namun tetap kalah oleh dentuman riak air yang beradu dengan batu-batu. Tubuh kecilnya menyembul sebentar lalu menghilang di bawah pusaran air. Aku berteriak kencang.&lt;br /&gt;Sementara langit merah senja membakar kulit. Aku kehabisan napas. Kuteriakkan nama bapak, nama ibu, dan Laksita istriku. Dan Bimo. Dan mbah kakung, dan nenek. Saat itu, tubuhku seperti terseret angin ke barat, menenggelamkanku ke sebuah kolam jernih dengan biru langit tropis. Tanganku menggapai-gapai permukaan.&lt;br /&gt;Dan mataku terbuka. Ada infus melekat tertancap dikulit tanganku. Dan kulihat Laksita istriku berurai air mata memelukku dengan cinta yang telah tertanggungkan sekian lama. Bapak yang mulai renta dan ibu yang mulai lamban lalu sujud syukur seketika. Bau obat menguasai ruangan ini. Ada tulisan di jauh sana :ICU.&lt;br /&gt;Seseorang berjas putih berkata,”Syukur, masa kritismu telah berlalu…”&lt;br /&gt;Steteskop masih menempel di dadaku. Dingin. Sedingin ujung laras aparat yang terakhir kuingat sebelum aku mengalami mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patua, 4 Juni 2007&lt;br /&gt;Danu Wiratmoko&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-1568017140613680221?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/1568017140613680221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=1568017140613680221' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/1568017140613680221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/1568017140613680221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/02/mimpi-buruk.html' title='MIMPI BURUK'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-2734055498596086686</id><published>2008-02-13T03:33:00.001-08:00</published><updated>2008-05-14T04:04:12.634-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>TOPENG-TOPENG</title><content type='html'>Kemarin aku berjalan-jalan. Bertemu orang-orang dengan wajah aneh. Rautnya tak berdarah. Beku. Ada sebuah toko dimana orang-orang banyak mengantri. Kebanyakan usia tengah baya. Laki-laki dan perempuan sama saja. Ada yang berdasi, ada yang tidak. Ternyata raut-raut tak berdarah itu adalah raut orang-orang yang keluar dari toko. Aku penasaran. Aku pun mengantri.&lt;br /&gt;“Kalian mengantri apa?” tanyaku pada orang didepanku.&lt;br /&gt;“Topeng “, jawabnya.&lt;br /&gt;Tiga jam, lalu kudapati diriku sudah di depan pramuniaga. “Topeng?”, tanyanya. Aku mengangguk. Sekedar iseng saja.  “Mau yang apa?”&lt;br /&gt;“Yang paling laris yang mana?”&lt;br /&gt;“Yang paling laris yang lidahnya menjulur menjilat. Tapi itu sudah habis sejak 3 jam yang lalu. Mungkin baru besok datang lagi. Katanya topeng jenis itu khasiatnya bagus sekali. Cocok buat yang pengin cari muka di depan pimpinan.”&lt;br /&gt;Aku jadi ingat teman-teman kantorku. Kemarin dan kemarin lusa raut wajah mereka juga beku. Lidah mereka juga menjulur panjang seperti menjilat. Wah, rupanya aku sudah ketinggalan tren.&lt;br /&gt;“Saya sarankan bapak pakai yang ini saja. Topeng dua wajah. Satu tersenyum satu berwajah bengis. Ini alternatif pak. Orang-orang juga mengambil yang ini. Berikan topeng senyum untuk pimpinan Anda, berikan wajah bengis untuk bawahan Anda. Khasiatnya hampir sama pak. Cukup taktis buat cari wibawa.”&lt;br /&gt;Aku jadi agak bingung. Beberapa teman kantorku juga mengenakan topeng ini. Malah ada yang punya dua, satu topeng dengan lidah menjulur menjilat dan satunya lagi topeng jenis terakhir.&lt;br /&gt;“Kalau ibu-ibu suka yang ini, topeng cantik berbau wangi. Katanya bagus untuk menarik daya fantasi seksual lawan jenis. Pilihannya banyak lho, ada yang pink, ada yang hijau, ada yang biru. Yang merah yang paling galak daya magisnya pak. Sekelas pejabat bisa klepek-klepek…dapet deh proyek..”&lt;br /&gt;Wow!&lt;br /&gt;“Oh, iya, saya juga masih punya satu jenis topeng lagi pak. Sengaja saya simpan untuk orang-orang tertentu. Topeng tikus. Anda akan bisa korupsi sewaktu-waktu. Anda akan kebal sindiran, dan yang pasti Anda licin juga. Tapi agak bau pak, khas bau tikus. Jika Anda teriak maling, mereka tidak tau kalau Andalah maling sebenarnya. Pilih mana pak?”&lt;br /&gt;“Harganya?”&lt;br /&gt;“Murah pak. Semua sedang diskon. Cukup membayar 1000 rupiah saja dan Anda bawa pulang topengnya.”&lt;br /&gt;“Maaf, Saya sedang tidak punya uang. Saya baru saja diskorsing tanpa tahu apa kesalahan saya. Mungkin besok saya sudah dipecat. Maaf,..”&lt;br /&gt;Dan benar saja, sehari setelahnya, alias hari ini, aku mendapatkan surat pemecatanku. Alasannya sungguh klise : hanya aku sendiri di kantor yang tak mau mengenakan topeng. Padahal akan ada pesta topeng. Ya sudah.&lt;br /&gt;Aku berjalan lagi di sepanjang trotoar. Kutemui pramuniaga kemarin. Mau iseng beli topeng dengan uang pesangonku.&lt;br /&gt;“Maaf pak, topeng sudah habis ludes sejak tadi pagi. Sekarang Kami menjual item lain. Ini barang langka pak. Tapi maaf harganya selangit. Mungkin presiden pun tak mampu membeli.”&lt;br /&gt;“Barang apa mbak?”&lt;br /&gt;“baju HATI NURANI….”&lt;br /&gt;Patua, Medio Januari 2007&lt;br /&gt;Danu Wiratmoko&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-2734055498596086686?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/2734055498596086686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=2734055498596086686' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2734055498596086686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/2734055498596086686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/02/topeng-topeng.html' title='TOPENG-TOPENG'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-8727120209003809152</id><published>2008-02-13T03:32:00.000-08:00</published><updated>2008-05-14T04:04:47.084-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>SERUANG HATI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sebuah percakapan dalam pekat suatu waktu.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terjadi ketika hati Jim tak terbendung menahan hiruk pikuk seruan nelangsa. Cintanya masih bersauh di sebuah pelabuhan hati sang kekasih. Biar jarak dan waktu menjadi busur panah, namun khayal dan impian tak berhenti jua. Dia di ujung Timur Jawa, mencuri sedikit waktu untuk melupakan masa lalu. Tapi, suluh rindunya tak mungkin tertiup angin lalu.&lt;br /&gt;Kini, Dia arungi lajur-lajur jalan dengan tetes kasih yang luruh bersama bulir keringatnya. Hati adalah ruang-ruang yang baru terisi sebagian. Ada seruang yang disisakan olehnya untuk seorang saja. Seorang saja, yang mungkin adalah sayap harapan orang lain.&lt;br /&gt;Luna sangat mengerti apa yang dimau Jim. Dia pun sangat mengerti apa yang dimauinya. Jim baginya cerita dongeng menjelang tidur, menentramkan sisi batin kanak-kanaknya. Tapi Jim telah menjadi ranum apel yang dipetik wanita lain. Sangat tak mungkin baginya berbagi harap. Pun kini Luna adalah ilalang yang terpetik dan dipelihara dalam sebuah pot indah.&lt;br /&gt;Jim tak pernah tahu perasaan Luna hingga percakapan ini usai.&lt;br /&gt;Jim, dalam kemelut bimbang, “Salammu telah kusampaikan. Meski tak tahu maknanya, anakku tersenyum dalam hangat. Kau bahagia?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;(Ya. Tapi Kau takkan pernah tahu bahagiaku terbalut perih..)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Oh ya?...nice to hear that. Dia pasti sudah banyak maunya. Persis kayak Bapaknya.” Luna coba tersenyum. Ragu.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Akhirnya kau cantumkan juga nama pemberianku untuk anakmu : Nirmala.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(Mestinya kita kawin dan dia lahir dari rahimmu, sayang…)&lt;br /&gt;“kau tak berubah,” Jim membetulkan duduknya. Berdehem dan mencoba tenang. “Tak terasa waktu berlalu begitu cepat ya? Kita sudah menjadi pribadi yang semakin lengkap. Oh iya, bagaimana kabar Rey?”&lt;br /&gt;“Baik.”&lt;br /&gt;(Ah, kuharap tidak baik…)&lt;br /&gt;“Kapan kalian….”&lt;br /&gt;“Entah, belum ter-schedule,” Luna cepat menukas. Senyum lagi. Paras itu tetap memancarkan pesona. Dia memainkan cincin dilingkar jemarinya. Luna bermain misteri.&lt;br /&gt;“Lelaki beruntung….” Jim lirih menggumam.&lt;br /&gt;(aku lelaki celaka! tak kudapat cintamu hingga kini)&lt;br /&gt;“Apa? siapa yang beruntung, Jim? “&lt;br /&gt;“Rey. Kau menyerahkan hatimu untuknya..dan bukan untukku..”&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Tuhan Maha Tahu Kau adalah rindu purbaku.&lt;br /&gt;Tuhan Maha Tahu aku tak mampu melupakanmu.&lt;br /&gt;Tapi Tuhan memilih rusuk Rey untuk menjelma diriku..)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Berusaha tenang Luna. Seserut kopi, kali ini terasa pahit sekali. Kafe ini jadi penuh deru angin yang langsung menyusup tulang-tulang ringkihnya.&lt;br /&gt;“Oh, Jim..bukankah hidupmu telah sempurna? Istri cantik..”&lt;br /&gt;“Bukan Kamu, Luna.”&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Ya..ya..kenapa bukan aku?)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Anak yang lucu. Tonggak masa depanmu.”&lt;br /&gt;“Nirmala….” Jim mendesis.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Luna terdiam sesaat. Jim mengulurkan handphone. Didalamnya tampak Nirmala tersenyum manis. Luna memandang foto peri kecil itu dengan mata berkaca. Tampak jelas dia ada di entah suatu tempat. Berkelana dengan kuda putih di padang gurun menuju surya senja keemasan.&lt;br /&gt;Jim menyeruakkan jemari menyentuh punggung tangan Luna. Luna terkesiap.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jim : “Aku bersalah atas masa lalu.”&lt;br /&gt;(kupikir penantianku padamu sia-sia.&lt;br /&gt;Tak sanggup aku mengarungi pekat hari-hari. Aku takut sendiri…)&lt;br /&gt;Luna menarik diri, “Kenapa kau tak bersyukur atas semua ini, Jim?”&lt;br /&gt;“Tidak. Kalian bukan komparasi. Kalian ada di ruang berbeda. Aku bahagia, iya. Tapi, bagaimana aku jelaskan tentang perih sembilu yang menghuncam ulu hati?”&lt;br /&gt;(Kubunuh Kau, Rey, jika tak membahagiakannya!)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Jangan Kau rayu aku, please..aku bisa luluh lantak.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Jim..aku milik Rey.”&lt;br /&gt;(dan juga milikmu tanpa kau tahu…)&lt;br /&gt;Jim mendesah panjang. Berat beban tak kuasa disandang. Paras cantik Luna terpandang penuh bunga-bunga dan sinar aura nan teduh. Wanita setia. Wanita Jawa nan agung. Jim sendiri merasa dirinya rendah. Meringkuk dibalik jeruji sebagai pesakitan yang hilang kemerdekaannya. Menunggu dipasung.&lt;br /&gt;Semrawut Jogja semakin pekakkan telinga. Sudut Gejayan terselimuti mendung hitam yang siap menumpahkan guyur hujan tak beraturan.&lt;br /&gt;“Jim, seharusnya kita tak berhubungan seperti ini..Ini salah.”&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Peluk aku Jim…peluk aku…)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Luna terdesak sorot mata elang Jim. Pancuran mengalir di hilir sungai. Dia merasa tentram seperti anak gembala.&lt;br /&gt;“Tak seharusnya kau menjawab telponku Luna. Kalau kau tak ingin. Abaikan saja SMS-SMSku. Jangan pernah kau buka emailmu….” Berhenti sejenak Jim, lalu : ”dan nurani tak pernah salah, Luna. Tak pernah salah..”&lt;br /&gt;Hujan benar-benar turun. Langsung deras. Pengguna jalan beringsut menepi.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(kau benar, Jim…tapi bagaimana kuungkapkan rasaku?&lt;br /&gt;tak menjawab telponmu? yang benar saja?)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Meleleh juga air mata Luna. Dia dalam kebimbangan sangat.&lt;br /&gt;(God, ijinkan aku retas jalan kasih ini..)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(ayolah Jim…sederhana saja, peluk aku.&lt;br /&gt;Biarkan sukma kita saling berpagut dan mengisi lalu lupakan.&lt;br /&gt;Tak mungkin aku hidup dengan dua cinta.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(Luna, Luna..kupanggil engkau dalam gelap)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(tapi bagaimana Nirmala dan ibunya?)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(Maaf istriku, aku dimabuk asmara)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Rey..Rey…)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(Luna, kekasih hingga akhir jaman. Sempurnakan hidupku duhai kekasih…)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Kau datang terlambat, Jim.&lt;br /&gt;Kenyataan tak mungkin terpungkiri.&lt;br /&gt;Hidup adalah rajut benang tak beraturan..Aku tak temukan ujungnya..)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sekian menit dalam kebekuan. Pandang mata mereka beradu. Masih saja dinding tebal memisahkan mimpi. Mereka berdua adalah musafir perindu oase. Perpaduan sepadan yang terpisahkan kusamnya dunia. Ingin rasanya Jim segera memeluk Luna. Pun juga Luna ingin sekali melingkarkan tangannya menyambut hangat tubuh Jim. Lalu terlelap tatkala jemari Jim mengusap lembut rambutnya dengan hikmat. Luna ingin menjadi bayi yang tenteram ditimang. Jim haus menjadi sang pelindung.&lt;br /&gt;Tapi ini kenyataan. Jangan pernah berharap mimpi ditengah hari. Bibir mereka masih kelu untuk berucap sebuah kenyataan yang lebih hakiki. Belum juga hati tergugah untuk menyemangati.&lt;br /&gt;“Aku tak sabar menyerahkan segalanya kepada waktu. Dia tak kunjung menjawab, Luna.”&lt;br /&gt;“Bagaimana membuatmu mengerti, Jim?”&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Mengerti bahwa paling tidak kita bersatu dikehidupan mendatang.&lt;br /&gt;Aku berjanji akan menunggumu di ujung jalan…)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(Jangan katakan kau tak bisa lepas dari Rey!)&lt;br /&gt;“Aku takkan bisa mengerti jika itu artinya TIDAK darimu..”&lt;br /&gt;“Kau mulai memaksakan kehendak, Jim.”&lt;br /&gt;“Aku harus.”&lt;br /&gt;“Tapi aku tak bisa…”&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Terus berusaha, Jim…takhlukkan aku!)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jim menggenggam tangan Luna.&lt;br /&gt;“Demi Tuhan, katakan Kau tak mencintaiku…”&lt;br /&gt;Luna terlempar ke masa lalu. Jim tahu bahwa dia telah bersama Rey saat pertama bertemu. Luna paham dia tak mungkin berkhianat, karena budaya mengajarkannya arti kesetiaan. Tapi tangan-tangan gaib tetap bekerja pada mereka. Luna tiba-tiba saja telah sering berada bersama Jim. Sedang Jim menikmati detik demi detik kebersamaan. Tak ada yang tahu siapa yang memulai.&lt;br /&gt;Cerita tentang keindahan tersemai sudah. Hingga suatu saat Luna menangis menjawab pinta Jim.&lt;br /&gt;“Kau terlalu kuat buatku, Jim…”&lt;br /&gt;“Kau juga terlalu indah buatku. Ikutlah bersamaku lalui hari-hari…”&lt;br /&gt;“Aku tak bisa…”&lt;br /&gt;Luna masih bersama Rey, meski kadang sesuatu dalam dirinya meronta mengharap Jim hadir dan menyelesaikan setiap langkahnya. Luna menghadirkan Jim dalam ribuan mimpi-mimpi malamnya. Membangun khayal di sudut dimensi yang tak seorangpun dapat mengusiknya. Luna masih bersama Rey, menjalani warna hari tanpa batas yang pasti. Sementara Jim mulai kehilangan hati. Dia menikah dan punya anak.&lt;br /&gt;“Luna,…..” Sentuhan halus Jim buyarkan lamunan Luna.&lt;br /&gt;“Oh, Jim.  Please, jangan paksa aku menjawabnya. Itu akan membawa konsekuensi berlanjut. Please…”&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Kau pasti akan menuntutku untuk hidup bersamamu.&lt;br /&gt;Aku mau, tapi jangan sekarang. Tidak di kehidupan ini.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Just say it.”&lt;br /&gt;“No. I can’t.”&lt;br /&gt;“Kau memang tak pernah mencintaiku. Aku tak sadar diri..”&lt;br /&gt;(God! hentikan detak jantungku sekarang juga!)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;(Tidak! bukan itu maksudku.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Kita bukan kita yang dulu. Kau, istri dan anakmu. Aku dan Rey..”&lt;br /&gt;(Rey bukan siapa-siapa…)&lt;br /&gt;“Katakan saja, Luna. Kau mencintaiku tidak?”&lt;br /&gt;“Tuhan…”&lt;br /&gt;“Luna…”&lt;br /&gt;Saat hampir bersamaan handphone Jim dan Luna berdering. Jim ditelpon istrinya, dan Luna ditelpon Rey. Tapi kedua mata mereka tetap saling berpandangan. Luna berbohong kepada Rey dia masih di kantor. Jim berbohong kepada istrinya dia masih dalam perjalanan pulang. Suara mereka bergetar. Jim masih menyisakan perih berkepanjangan. Luna butuh tempat bersandar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patua, 28 Februari 2006   13.17 WIB&lt;br /&gt;Danu Wiratmoko&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-8727120209003809152?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/8727120209003809152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=8727120209003809152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8727120209003809152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/8727120209003809152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/02/seruang-hati.html' title='SERUANG HATI'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-6023616135334614956</id><published>2008-02-13T03:29:00.000-08:00</published><updated>2008-05-14T04:05:35.918-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>KABAR UNTUK ISTRIKU</title><content type='html'>Kita sedang bicara tentang kita.&lt;br /&gt;Sekarang coba kau raba detak waktumu, disana ada bermacam kerinduan yang kupadankan dengan ekspresi setulus hati. Ada rindu bertabur perih yang dalam. Ada rindu dengan selendang asa yang menari indah. Ada rindu yang melekat pada hasrat bertemu…Tidakkah kau rasakan pula dalam hatimu, apa yang telah kupanahkan itu? Bukankah sembilu juga tengah menyayatmu?&lt;br /&gt;Kita berada dalam jarak dan waktu yang disusun takdir. Maka jika kau harus menangis, biarlah leleh air mencari jalan di wajahmu. Rasakan saja getar jiwamu terus membelenggu. Rasakan terus impian-impian kita meski tak kunjung nyata. Peluklah angin karena nafasku terhembus di sana.&lt;br /&gt;Kekasih hati sumber inspirasi. Meski kota ini tak memberi senyawa yang sempurna, aku harus menikmatinya sepanjang hari. Mengunyah kegundahan yang semakin menggerogoti keletihan otak. Menyaksikan kisah-kisah kehidupan seperti bioskop di depan mata, tetapi bukan empat dimensi sehingga tak mungkin ku berkerumun di dalamnya.&lt;br /&gt;Tetapi, jika kau ingin menangis, jangan menangisi aku. Menangislah jika kau rindu. Tangismu itu adalah doa kepada Tuhan agar kita dipertemukan. Segera. Hikmatlah, karena keyakinan yang tajam membawa kita ke padang pencerahan. Dia akan menjawab semuanya. Menjawab kerinduanmu. Menjawab pintamu. Dan Tangan-tangan gaib akan mendendangkan lagu beriring rebana kasih di telingaku. Lewat angin kudengar cinta memanggil. Kuhirup bening suaramu, dan celoteh riang anak kita.&lt;br /&gt;Oh ya, apa kabar dia? Masihkah begitu ceria dengan buah tangan yang kubawakan kemarin dulu? Dia adalah belahan jiwa yang menyengatku dengan semangat sangat. Setiap detik, hangat peluknya terasa menyelimuti kesendirian jiwaku. Aku menjadi tak kedinginan lagi. Meski, tentu saja, pisau berkarat tetap menancap-nancap ulu hati.&lt;br /&gt;Biarkan anak kita tumbuh kembang seperti adanya. Mencoba mencari arti cinta dan pengkhianatan secara bijak. Jadilah markanya, tetapi tak mesti harus tunjukkan tujuan. Kasih sayang kita adalah baju yang akan terus dia kenakan sepanjang hayat. Jangan kekang dia dengan alasan apapun, karena dia akan banyak menduga bahwa kasih sayang yang kita berikan meminta imbalan. Dia adalah bidadari kecil yang sedang mencoba kepakkan sayap. Penuhi dia dengan ilmu pengetahuan semesta raya, dan janganlah lagi khawatir dia akan melupakan kita. Kita tak akan terlupakan, karena darah kita berdua telah menjadi buluh nadi yang memberinya hidup.&lt;br /&gt;Pujaan hati, aku berharap kau tetap menjadi pelita bagi sekitarmu. Bagikan mimpi dan imajinasimu tentang surga. Ingatkan aku tentang saat-saat berdua, mengaitkan jemari menangkap redup surya di langit senja. Kita selalu membayangkan betapa mesra lukisan langit jingga itu sebagai kado kelahiran anak kita.&lt;br /&gt;Istriku terkasih. Kini sebuah misteri sedang kita coba temukan jawabnya. Aku ingin kau bertahan seperti ini. Menjadi istri perindu tetapi tetap sekuat gunung. Kelak di ujung jalan, aku akan menjemputmu seperti apapun yang pernah kita bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patua, medio September-oktober 2006&lt;br /&gt;Danu Wiratmoko&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-6023616135334614956?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/6023616135334614956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=6023616135334614956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6023616135334614956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/6023616135334614956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/02/kabar-untuk-istriku.html' title='KABAR UNTUK ISTRIKU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3214791715338561209.post-602233080320413190</id><published>2008-02-13T02:31:00.000-08:00</published><updated>2008-05-14T04:05:59.016-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>KATA-KATA UTARA STASIUN TUGU</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;21.35 WIB.&lt;br /&gt;“Wedang tape dua, mas.” Telunjuk dan jari tengah teracung.&lt;br /&gt;“Jadah bakare isih ana, ra?”&lt;br /&gt;“Misi, bos. Mau ngamen. Minta lagu apa?”&lt;br /&gt;“Apa ya? Anu aja, Kerispatih.”&lt;br /&gt;“Ancuk! Darsono susah banget dicari. Istrinya bilang dia sudah tiga hari ngilang. Aku ‘kan repot, cicilan motornya gak dilunasi!”&lt;br /&gt;Berbisik : “Makasih ya, yang tadi. Gitu dong, jangan buru-buru keluar…”&lt;br /&gt;“Huahahaha…”&lt;br /&gt;“Halo..halo? ini Ujang? Apa? Lho, nomornya salah ya? Ya udah. Sori ya…”&lt;br /&gt;“Pan, aku tambah segane.”&lt;br /&gt;“Asyik ya. Suasana kayak gini ini yang tak cari. Nyamleng. Biasanya sampai jam berapa bukanya? Jam segini aja dah habis-habisan.”&lt;br /&gt;“Lha tadi aku di Mantrijeron, hampir aja dimassa. Nagih motor malah diteriaki maling. Busyet!”&lt;br /&gt;“Emm…ntar lagi ya, Ras? Nambah.” Sambil sebelah siku menyenggol payudara perempuan.&lt;br /&gt;“Ih…” sambil mencubit, tapi senyum memberi arti tersendiri.&lt;br /&gt;Sayup terdengar lagu cinta putih, “Khianati…sebisa dirimu mengkhianati…”&lt;br /&gt;Huh! Pengkhianatan dimana-mana.&lt;br /&gt;“Rokok…rokok…rokok…”&lt;br /&gt;“Lo harus coba lagi. Dian emang keras. Lo jangan trus ikutan keras. Siapa sih Roy? Gampanglah. Ntar aku yang urus. Yang pasti jangan berhenti usaha. Oke coy?”&lt;br /&gt;“Siapapun yang punya Vario keluaran September 2006 sampai Maret 2007, segera aja tukerin. Katanya ada sparepartnya yang gagal produk. Mau diganti baru. Tapi dalam bulan ini aja. Sumpah aku nggak bohong!”&lt;br /&gt;“Rokok!”&lt;br /&gt;“Halo Ujang? Apa? Salah lagi? Bah! Salah melulu!”&lt;br /&gt;Motor datang. Motor lain pergi. Suara kereta api bising menimpakan rem diatas besi rel.&lt;br /&gt;“Gandrik dah mati! Jaduk sibuk cari makan sama kuaetnika. Butet lagi nggak doyan duit. Terima kasih Honda….Prek!”&lt;br /&gt;“Huahaha…” Wong edan lewat lagi.&lt;br /&gt;“Tadi ditaruh mana? Aku nggak bawa, kok! Gledhah ki lho!”&lt;br /&gt;“Tapi kalo mas Bimo tuh, ngajarnya enak. Nggak sak klek.”&lt;br /&gt;“Lantas aku harus gimana dong? Dia telpon kayak minum obat, tiga kali sehari. Nggak diangkat, ya gimana. Apa? Putus? Please deh…trus siapa dong yang beliin aku pulsa?”&lt;br /&gt;“Mas Jarwo, sini lho kumpul. Nylingker aja. Takut ditagih hutang ya?”&lt;br /&gt;“Flashdisk sudah murah. 90 ribu dapat 1 gyga”..&lt;br /&gt;“Parkire mbayar, pora?”&lt;br /&gt;“Cuman dapat dua motor hari ini. Aku harus berpikir ganti profesi kayaknya. Bojoku wis muring-muring…lelakon urip.”&lt;br /&gt;“Deddy Mizwar emang edan. Tora kurang. Kurang. Harusnya Mathias Muchus…”&lt;br /&gt;“Studio Pengok dah bisa buat rekaman. Wah, ketinggalanan zaman Kowe!”&lt;br /&gt;“Asu, ki. Bokonge kae lho. Ndhekmu…ndhekku…ndhekmu…ndhekku…”&lt;br /&gt;“Sing ndi? Ibune po anakke?”&lt;br /&gt;“Cabut, yuk. Editanku belum kelar nih. Besok deadline.”&lt;br /&gt;“Ada. Di Carefour ada.”&lt;br /&gt;“Kau pasti bukan Ujang! Ngomonglah dari tadi! Sialan! Habislah pulsaku!”&lt;br /&gt;“Sate usus dua, peyek kacang tiga, sega kucing empat, gorengan lima. Wedange teh. Dua. Pira?”&lt;br /&gt;“Mas, sekarang Naff dong.”&lt;br /&gt;“Jangan Naff. Banci!”&lt;br /&gt;“Rambutku jo dijambak, Su! Ini asli gimbal. Damputtt!”&lt;br /&gt;“Nggak..nggak ekuivalen. Diagonalnya kan tidak sama panjang?”&lt;br /&gt;“Makanya datang Senin pagi, biar diikutin pelatihan! Strategimu keliru kok, Nu!”&lt;br /&gt;“Kopine kurang kenthel!”&lt;br /&gt;“Tapi jangan dari belakang ya, perih…” ada kepala mengangguk setuju.&lt;br /&gt;“Wahai malam panjang..tuntunlah penaku…melukis wajahmu, didalam kalbu..” Nugie yang muncul dari mulut pengamen.&lt;br /&gt;“Gardanalla? Joned masih mabuk luar negeri!”&lt;br /&gt;“Yoyok saiki dadi PNS! Jarene gek kerep mangkat pelatihan. Wah, akeh kae poinne…”&lt;br /&gt;“Sekarang sudah ada tugu Adipura to, di pertigaan Abu Bakar Ali? Berarti dah lama dong aku tak ke Jogja.”&lt;br /&gt;“Mas dari KR, ya? Mbok kolom Sungguh-Sungguh terjadinya honornya ditambah.”&lt;br /&gt;“Nyamuknya kok ya banyak sih…”&lt;br /&gt;“Huahahaha,…” kali ini wong edan berhenti. Mencuil bahu seseorang, dan tangannya isyaratkan minta rokok.&lt;br /&gt;“yang agak mahal ada di SOGO.”&lt;br /&gt;“Vokalmu rak tekan nek nyanyi Van Hallen-an!”&lt;br /&gt;“Kamu juga ke sini, Ndang? Warnet siapa yang jaga?”&lt;br /&gt;“Masuknya cuman Sabtu Minggu. Enak wis kamu. Bisa kuliah sambil kerja. Sayang lho, kalau nggak diterusin S1-nya. “&lt;br /&gt;“Sekaten ki nek rak ana dangdhut tobonge yo tetep ora rame!”&lt;br /&gt;“Kenapa ya, Sultan nggak mau lagi dipilih jadi Gubernur? Terus, keistimewaan Jogja gimana dong? Gajinya kurang ya?”&lt;br /&gt;“Sekarang mahal Mas, Jogja-Jakarta sekitar 275 ribu.”&lt;br /&gt;“Mrisi itu di belakangnya Madukismo. Kamu lewat arah Kasongan itu lho. Mau apa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupingku masih saja menangkap suara-suara. Traffic-nya memunculkan hawa panas, dan tak bisa kucerna satu-satu. Apa yang telah terucap kadang hilang begitu saja dari ingatan. Manusia terlalu banyak bicara, hingga lupa janji-janji. Aku juga tak yakin, orang-orang ini ingat kata demi kata yang diucapkannya. Mungkin penting, bisa pula tidak. Mungkin manfaat, bisa pula fitnah. Tapi tak mengapa, toh tak ada yang melarang seperti itu. Bicara adalah hak. Bicara adalah wujud eksistensi. Tapi, semampu apa kita mendengar? Apakah kau bosan jika sesekali mendengar saja?&lt;br /&gt;Aku membayangkan betapa besar kuping Tuhan. Betapa Maha sabar Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patua, 18 April 2007&lt;br /&gt;Danu Wiratmoko&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3214791715338561209-602233080320413190?l=danusangbintang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://danusangbintang.blogspot.com/feeds/602233080320413190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3214791715338561209&amp;postID=602233080320413190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/602233080320413190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3214791715338561209/posts/default/602233080320413190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://danusangbintang.blogspot.com/2008/02/kata-kata-utara-stasiun-tugu.html' title='KATA-KATA UTARA STASIUN TUGU'/><author><name>DUNIAKU CERIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07198631936352835784</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_w5OeHalEnYM/R_tUPUe3nVI/AAAAAAAAABs/D5boxmZhP_s/S220/gambar_kudus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
